Puasa Ramadan Membina Manusia Beriman dan Berakhlak

  • 08 Mar 2026 16:58 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Ibadah puasa Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ritual tahunan bagi umat Islam, tetapi juga sebagai sarana pembinaan manusia agar menjadi pribadi yang lebih baik dan beradab. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Tgk. H. Damanhuri Basyir, M.Ag, anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, dalam dialog interaktif Mutiara Ramadan di RRI Pro 4 Banda Aceh, pada Sabtu (7/3/2026).

Dalam dialog yang dipandu oleh penyiar Cut Zahrita tersebut, Damanhuri menegaskan bahwa puasa merupakan proses pelatihan spiritual yang bertujuan membentuk manusia agar mampu “memanusiakan manusia”. Artinya, seseorang tidak hanya baik bagi dirinya sendiri, tetapi juga memberi dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

Menurutnya, puasa adalah ibadah tahunan yang Allah tetapkan sebagai sarana pembinaan rohani sekaligus penyembuhan jiwa manusia. “Ramadan datang sebagai latihan dan pembinaan agar manusia mencapai tingkat ketakwaan. Dari ketakwaan itu lahirlah sifat muhsin, yaitu manusia yang tidak hanya baik, tetapi juga mampu memperbaiki lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.

Damanhuri menjelaskan bahwa perjalanan menuju ketakwaan dapat dipahami melalui empat tahapan utama.

Tahap pertama adalah menjadi muslim, yakni menjalankan ajaran Islam dengan tunduk dan patuh pada syariat, termasuk melaksanakan rukun Islam seperti salat, zakat, dan puasa.

Tahap kedua adalah menjadi mukmin, yaitu memperkuat keyakinan kepada Allah melalui penghayatan rukun iman. Pada tahap ini seseorang mulai merasakan ketenangan hati, percaya pada janji Allah, meningkatkan amal, serta menjauhi dosa dan kemaksiatan.

Tahap ketiga adalah mencapai tingkat ikhlas (mukhlis). Pada fase ini, amal ibadah dilakukan semata-mata karena Allah tanpa mengharapkan pujian atau balasan dari manusia. Baik ketika dilihat orang lain maupun saat sendirian, kualitas ibadah tetap sama.

Tahap keempat adalah mencapai takwa, yakni keadaan ketika nilai-nilai Islam, iman, dan keikhlasan telah menyatu dalam diri seseorang. Dari sinilah lahir karakter muhsin yang mampu memberi kebaikan bagi diri, masyarakat, bahkan lingkungan alam.

Dalam dialog tersebut, Damanhuri juga menekankan pentingnya ketenangan hati dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, banyak kegelisahan manusia bersumber dari keinginan terhadap kekuasaan dan harta yang berlebihan.

Ia menjelaskan bahwa Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya atau memiliki jabatan, selama hal tersebut diperoleh dengan cara yang benar dan tidak menzalimi orang lain. Namun, harta dan kekuasaan seharusnya “dipegang dengan tangan”, bukan “dimasukkan ke dalam hati”.

“Hati manusia kecil. Jika diisi dengan ambisi dunia, kegelisahan akan muncul. Tetapi jika hati diisi dengan iman dan keikhlasan, ketenangan akan tercapai,” katanya.

Selain membentuk kepribadian, puasa juga melatih kepekaan sosial. Menurutnya, hati manusia harus dihidupkan agar mampu merasakan penderitaan orang lain. Ramadan menjadi momentum penting untuk menumbuhkan empati, kesabaran, serta kemampuan menahan emosi.

Ia menambahkan bahwa salah satu tanda keberhasilan puasa adalah kemampuan seseorang mengendalikan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan memperbanyak sedekah.

Damanhuri menilai bahwa Ramadan juga berfungsi sebagai pendidikan moral bagi masyarakat. Melalui puasa, manusia dilatih menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa, mengendalikan keinginan, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.

Ia menyebutkan bahwa manusia memiliki dua dimensi yang harus dibina: fisik dan mental. Fisik terkait dengan penggunaan anggota tubuh seperti tangan, mata, telinga, dan lisan agar tidak melakukan perbuatan yang merugikan. Sementara itu, mental berkaitan dengan kemampuan mengendalikan nafsu dan emosi.

Jika kedua aspek tersebut berhasil dibina, seseorang akan mampu menjaga hubungan sosial yang harmonis dengan masyarakat dan lingkungannya.

Di akhir dialog, Damanhuri menjelaskan beberapa tanda keberhasilan ibadah puasa. Di antaranya adalah gemar bersedekah, mampu menahan emosi, mudah memaafkan kesalahan orang lain, serta memiliki kesabaran dalam menghadapi berbagai keadaan.

Ia juga menekankan pentingnya memperbanyak membaca Al-Qur’an, menjaga salat berjamaah, dan memperbanyak selawat sebagai cara melembutkan hati.

“Jika puasa dijalankan dengan benar, manusia akan sampai pada tingkat muhsin. Pada tahap ini, ia menjadi pribadi yang baik sekaligus mampu memperbaiki lingkungan sekitarnya,” katanya.

Dengan demikian, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan proses pembentukan karakter manusia agar lebih beriman, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....