Ulama Ingatkan Bahaya Ujub dalam Ibadah
- 07 Mar 2026 16:10 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh : Ibadah yang dilakukan seorang muslim tidak hanya dinilai dari pelaksanaannya secara lahiriah, tetapi juga dari kondisi hati. Sikap ujub atau merasa bangga terhadap amal ibadah dinilai dapat merusak nilai ibadah tersebut.
Hal tersebut disampaikan anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Kota Banda Aceh, Murhaban Nafi, dalam dialog Mutiara Ramadan di Radio Republik Indonesia Pro 4 Banda Aceh, Jumat (6/3/2026). Ia menjelaskan bahwa penyakit hati menjadi salah satu tantangan besar dalam menjalankan ibadah.
Menurutnya, seseorang bisa saja rajin beribadah namun tetap kehilangan pahala jika hatinya dipenuhi riya atau ujub. Kondisi ini sering tidak disadari karena berkaitan dengan niat dan keikhlasan.
“Ujub itu sangat berbahaya karena membuat seseorang merasa ibadahnya berasal dari dirinya sendiri, bukan dari pertolongan Allah,” ujar Murhaban.
Ia menjelaskan bahwa secara lahiriah ibadah tetap sah selama syarat dan rukunnya terpenuhi. Namun secara batin, pahala ibadah dapat hilang jika seseorang merasa bangga terhadap amal yang dilakukan.
“Secara lahir ibadahnya tetap sah, tetapi pahala amal bisa batal karena ujub,” katanya.
Murhaban juga mengingatkan bahwa sifat riya sering muncul ketika seseorang ingin memperlihatkan ibadahnya kepada orang lain. Sikap tersebut dapat mengurangi bahkan menghilangkan nilai ibadah di sisi Allah.
Ia mencontohkan seseorang yang memperbesar suara zikir agar didengar orang lain. Perbuatan tersebut menunjukkan bahwa ibadah dilakukan bukan semata-mata karena Allah.
“Kalau amal itu ditampakkan untuk manusia, maka nilainya bisa hilang di sisi Allah,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat-sifat buruk. Dalam ajaran tasawuf dikenal proses membersihkan diri dari sifat tercela sebelum menghiasinya dengan sifat terpuji.
Menurutnya, proses tersebut dilakukan dengan memperbanyak ibadah dan terus mengingat Allah. Dengan demikian, hati akan semakin bersih dan ibadah menjadi lebih ikhlas.
“Membersihkan hati dari sifat buruk kemudian menghiasinya dengan sifat baik adalah jalan menuju kesucian hati,” katanya.
Murhaban berharap umat Islam dapat menjaga keikhlasan dalam setiap ibadah. Dengan niat yang benar dan hati yang bersih, ibadah yang dilakukan diharapkan memperoleh pahala dan keberkahan dari Allah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....