Ramadan sebagai Madrasah Peradaban, Momentum Membentuk Karakter Umat
- 28 Feb 2026 21:59 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Bulan suci Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi ruang pendidikan rohani yang membentuk karakter umat. Ibarat sebuah madrasah, Ramadan menghadirkan proses pembelajaran intensif selama satu bulan penuh yang menyentuh aspek ibadah, akhlak, hingga kehidupan sosial. Momentum ini dinilai mampu melahirkan pribadi yang lebih disiplin, berilmu, dan berintegritas.
Hal tersebut disampaikan oleh DR. Fikri Bin Sulaiman Ismail, Kepala Bidang PAI dan Da’i Dinas Syariat Islam Aceh, dalam dialog interaktif bersama RRI Pro 4 Banda Aceh, Selasa 24 Februari 2026. Ia menggambarkan Ramadan sebagai lembaga pendidikan imajiner yang kurikulumnya sangat lengkap, mulai dari ibadah wajib, amalan sunnah, hingga pembinaan moral.
| Baca juga: Ramadan Mengajarkan Makna Maghfirah |
“Bagi saya, Ramadan itu seperti sebuah madrasah. Kalau kita memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, seakan-akan kita menyelesaikan satu level pendidikan kilat selama sebulan, dan ijazahnya lengkap, semua nilai kehidupan ada di situ,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai yang diajarkan Ramadan tidak hanya berdampak pada kesalehan individu, tetapi juga memiliki efek kolektif yang besar bagi masyarakat. Jika dijalankan bersama-sama, disiplin ibadah, kepedulian sosial, serta semangat memperbaiki diri dapat menjadi fondasi membangun peradaban yang lebih maju, khususnya di Aceh yang memiliki sejarah kejayaan Islam.
Ia menilai, tantangan zaman saat ini membuat kualitas peradaban seolah meredup dibandingkan masa lalu. Karena itu, Ramadan harus dimanfaatkan sebagai momen refleksi dan peningkatan diri. “Kalau kita kompak mengamalkan nilai-nilai Ramadan, insyaallah kita bisa membangun kembali peradaban yang tinggi di Aceh. Dampaknya bukan hanya untuk akhirat, tapi juga nyata di kehidupan dunia,” katanya.
Lebih lanjut, Fikri menekankan bahwa kunci utama pembentukan karakter selama Ramadan adalah pendidikan dan penambahan ilmu. Umat Islam dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, memahami ajaran agama secara mendalam, serta mengetahui hikmah di balik setiap perintah dan larangan.
“Yang paling penting adalah menambah ilmu. Dengan memahami tujuan ibadah dan ajaran agama, kita akan lebih menghayati setiap amalan. Dari situlah perubahan karakter lahir, baik secara individu, keluarga, hingga masyarakat,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....