Ramadan Momentum Bentuk Akhlak dan Kebiasaan Baik
- 28 Feb 2026 21:20 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Anggota BKPRMI Aceh, Mustafa Fadil Ismi, S.Mak., menilai bulan Ramadan sebagai momentum efektif untuk membentuk akhlak mulia sekaligus menciptakan kebiasaan baik (good habit) dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikannya dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh Pro 2, Kamis (19/2/2026).
Menurut Mustafa, disiplin yang dijalani selama Ramadan—seperti bangun sahur tepat waktu, menahan diri sejak imsak hingga berbuka—secara tidak langsung melatih seseorang membangun kebiasaan baru yang positif.
“Disiplin itu bisa menciptakan habit baru. Ramadan melatih kita bukan hanya menahan lapar, tapi membentuk karakter,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tujuan hidup manusia pada dasarnya adalah memiliki akhlak yang baik serta memberi manfaat bagi sesama makhluk, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Nilai tersebut, kata dia, sejalan dengan konsep rahmatan lil ‘alamin.
Mustafa juga mengutip hadis yang dibacanya dalam buku Percikan Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa manusia tidak akan mampu memuaskan orang lain dengan harta, melainkan dengan wajah yang cerah dan akhlak yang baik.
“Sekaya apa pun seseorang, kalau akhlaknya buruk, orang lain tidak akan rida. Sebaliknya, orang yang santun dan berakhlak baik akan mudah mengambil hati,” katanya.
Ia mencontohkan dalam dunia pendidikan, santri yang berakhlak baik dan patuh cenderung lebih disenangi oleh guru dibanding yang memiliki sikap kurang baik.
Lebih lanjut, Mustafa menegaskan bahwa Ramadan juga menjadi sarana menstabilkan emosi dan melatih kejujuran. Saat berpuasa, seseorang belajar jujur kepada Allah karena menahan diri meskipun tidak ada yang melihat.
“Kejujuran itu mahal sekali di zaman sekarang. Ramadan mengingatkan kita bahwa setiap perbuatan diawasi oleh Allah,” ujarnya.
Selain membentuk kebiasaan baik, Ramadan juga dinilai sebagai momen untuk mengurangi kebiasaan buruk (bad habit) seperti ghibah atau bergosip. Menurutnya, suasana religius selama Ramadan membuat seseorang lebih mudah menerima nasihat dan lebih sadar akan dosa.
Ia mengajak umat Islam untuk terus bermuhasabah, mengikuti kajian, serta mempraktikkan ilmu yang diperoleh agar pembinaan selama Ramadan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir.
“Ramadan itu seperti pelatihan selama 30 hari. Jangan sampai setelah dilatih satu bulan penuh, kita kembali lagi pada kebiasaan lama,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....