Ramadan Jadi Ruang Jeda dari Riuhnya Dunia

  • 28 Feb 2026 13:49 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Bulan Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, tetapi menjadi momen penuh harapan sekaligus ruang jeda dari hiruk-pikuk kehidupan dunia. Setiap Muslim yang kembali dipertemukan dengan Ramadan patut bersyukur, karena kesempatan tersebut sejatinya adalah jawaban atas doa dan harapan di tahun sebelumnya untuk bisa kembali merasakan suasana suci bulan penuh berkah.

Founder Beut Alif Ba Ta, Nur Afifah, dalam dialog interaktif bersama RRI Pro 2 Banda Aceh, Kamis 26 Februari 2026 menjelaskan bahwa Ramadan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki bulan lain. Dalam hadis disebutkan pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. “Artinya peluang kita untuk meraih surga jauh lebih besar, dan peluang untuk berbuat maksiat sebenarnya lebih kecil. Maka sayang sekali kalau Ramadan tidak dimaksimalkan,” ujarnya.

Menurut Afifah, Ramadan juga menjadi waktu terbaik untuk melakukan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, hingga ria perlu dibersihkan agar ibadah menjadi lebih bermakna. Ia menilai proses menata hati ini memang tidak mudah, tetapi justru Ramadan menghadirkan suasana yang mendukung untuk memperbaiki diri.

Selain itu, Ramadan dapat dimaknai sebagai waktu istirahat dari kesibukan dunia. Aktivitas pekerjaan, target hidup, dan tekanan sosial yang padat sering kali membuat seseorang jauh dari ketenangan batin. “Sebelas bulan kita sibuk mengejar dunia. Ramadan ini ibarat ruang jeda, saatnya kita berhenti sejenak dan lebih dekat kepada Allah,” katanya.

Afifah menyoroti tantangan generasi muda saat ini yang kerap terjebak pada pergaulan, gawai, dan media sosial. Kebiasaan berkumpul tanpa arah bahkan berujung pada gibah dinilai dapat mengurangi kualitas ibadah. Karena itu, ia mengajak anak muda memanfaatkan Ramadan untuk mengganti kebiasaan tersebut dengan aktivitas yang lebih bermanfaat.

“Kalau biasanya kita asyik scroll handphone berjam-jam, Ramadan ini coba diganti dengan membaca Al-Qur’an, ikut kajian, atau memperbanyak zikir. Perlahan hati akan lebih tenang,” tutur Afifah. Ia meyakini perubahan kecil namun konsisten selama Ramadan dapat berdampak besar pada kehidupan setelahnya.

Melalui momentum ini, Afifah berharap Ramadan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi benar-benar menjadi titik balik perbaikan diri. “Jadikan Ramadan sebagai kesempatan terbaik untuk menyucikan hati, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena belum tentu kita dipertemukan lagi dengan Ramadan berikutnya,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....