Sejarah Masjid Teungku Chik Kuta Karang, Jejak Keilmuan Ulama Besar Aceh Abad ke-19

  • 26 Feb 2026 21:21 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Aceh Besar – Jejak sejarah dan keilmuan berpadu di Masjid Teungku Chik Kuta Karang yang terletak di Desa Kuta Karang, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Masjid ini didirikan sekitar tahun 1860 oleh ulama kharismatik Aceh, Teungku Chik Kuta Karang.

Dikutip dari Kemenag Aceh, dijelaskan Masjid tersebut berada di kawasan Dayah Babussalam, sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional yang dipimpin langsung oleh Teungku Chik Kuta Karang. Dayah ini berkembang pesat sebelum masa perang kolonial Belanda di Aceh, dengan santri yang datang dari berbagai daerah.

Teungku Chik Kuta Karang, yang memiliki nama asli Syekh Abbas bin Muhammad, dikenal sebagai ulama produktif pada abad ke-19. Selain memimpin dayah, ia juga pernah menjabat sebagai Qadi Malikul ‘Adil pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Ibrahim Mansur Syah (1273–1286 H/1857–1870 M).

Hh
Masjid Tgk Chik Kuta Karang kini berubah menjadi Gedung Pusat Observatorium Tgk Chik Kuta Karang yang menjadi pusat pengamatan hilal dan kajian astronomi Islam. (Foto: RRI/Munzir)

Dalam kiprahnya di bidang keilmuan, ia menulis sejumlah karya penting, antara lain Kitab ar-Rahmah tentang ilmu kedokteran dan pengobatan, Siraj az-Zulam fi Ma’rifat Sa’adi wa an-Nahas mengenai ilmu hisab dan perbintangan, Kitab ‘Ilmu Falak wal Mikat tentang astronomi, serta Taj al-Mulk yang membahas astronomi dan pertanian.

Karya-karya tersebut menunjukkan keluasan disiplin ilmu yang dikuasainya, mulai dari fikih hingga sains terapan, yang pada masa itu menjadi rujukan di lingkungan dayah.

Teungku Chik Kuta Karang wafat pada November 1895. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Tgk Abdullah Khan, Desa Leugeu, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.

Nama dan kontribusinya kini terus dikenang. Salah satu bentuk penghormatan adalah penamaan Observatorium Hilal Tgk Chik Kuta Karang di Lhoknga, Aceh, yang menjadi pusat pengamatan hilal dan kajian astronomi Islam.

Keberadaan masjid dan dayah peninggalannya tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga pengingat akan tradisi keilmuan Aceh yang pernah berjaya dan memberi pengaruh luas di Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....