Ramadan Bulan Tarbiyah Menuntun Umat Menuju Derajat Takwa

  • 20 Feb 2026 21:58 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, BANDA ACEH - Bulan suci Ramadan kembali dimaknai bukan sekadar sebagai kewajiban ritual tahunan, melainkan sebagai momentum pembinaan menyeluruh bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas diri. Dalam dialog keagamaan yang disiarkan Pro 4 RRI pada Kamis, 19 Februari 2026, Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Syariat Islam, Marshudi S.Pd.I, menegaskan bahwa Ramadan merupakan fase pendidikan langsung dari Allah Subhanahu wa ta’ala yang sarat dengan proses pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, serta pendewasaan sikap hidup.Ia menjelaskan bahwa konsep “tarbiyah” yang melekat pada Ramadan mengandung makna didikan dan pembinaan yang bersifat komprehensif. Melalui kewajiban puasa dan berbagai ibadah lainnya, umat Islam dilatih untuk mengendalikan diri, membersihkan hati, sekaligus meningkatkan kualitas hubungan dengan Sang Pencipta.

“Bulan Ramadan adalah bulan tarbiyah, makna tarbiyah itu adalah didikan atau pendidikan. Allah Subhanahu wa ta’ala langsung mendidik, melatih, dan menggembleng kita melalui berbagai ibadah, baik yang dilakukan dengan batin maupun dengan jasad. Maka Ramadan disebut sebagai bulan didikan Allah,” ujar Marshudi.

Menurutnya, Ramadan dapat diibaratkan sebagai sebuah ruang pembelajaran spiritual di mana setiap muslim menjalani serangkaian ujian yang dirancang untuk meningkatkan derajat keimanan. Berbagai tantangan seperti menahan hawa nafsu, memperbanyak amal kebajikan, serta menjaga lisan dan perilaku menjadi bagian dari proses seleksi yang bertujuan mengantarkan manusia menuju tingkat ketakwaan yang lebih tinggi.

“Ramadan itu tak ubahnya seperti kelas. Di dalamnya ada berbagai ujian dan filter dari Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menaikkan ‘kelas’ kita, dan tingkat tertinggi itu adalah takwa, yakni menjadi orang yang muttaqin di sisi Allah,” tambahnya.

Lebih jauh, Marshudi menekankan bahwa rangkaian ibadah yang dijalankan selama Ramadan memiliki orientasi jangka panjang, yakni membentuk pribadi yang konsisten dalam kebaikan bahkan setelah bulan suci berakhir. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana latihan moral yang mengajarkan kesabaran, kejujuran, serta kepedulian sosial.

“Tahapan ibadah di bulan suci Ramadan bermuara menjadikan kita hamba Allah yang muttaqin. Manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang bertakwa, yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya,” jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa ketakwaan yang sejati akan tercermin dalam perubahan sikap dan perilaku sehari-hari. Ketika nilai-nilai keimanan telah tertanam kuat, seseorang akan terdorong untuk terus melakukan perbaikan diri, menjaga integritas, serta memperluas manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Ketika sifat takwa telah bersemayam di hati dan nilai-nilai ajaran terinternalisasi, maka seseorang sejatinya telah melakukan pembersihan jiwa, sehingga menjadi insan yang lebih baik di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala,” tegasnya, Melalui pemaknaan tersebut, Ramadan diharapkan menjadi titik balik bagi umat Islam untuk memperkuat fondasi spiritual sekaligus membangun karakter yang lebih tangguh dan berakhlak mulia. Proses tarbiyah yang dijalani selama sebulan penuh diharapkan melahirkan pribadi yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....