Cara Memahami Hilal Ramadan Menurut Al Quran
- 17 Feb 2026 21:07 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah kembali menjadi perhatian umat Islam di Indonesia. Perbedaan metode memahami hilal dinilai sebagai dinamika ilmiah dan syar’i yang perlu disikapi bijak.
Hal itu disampaikan Ustadz Riza Afrian Mustaqim, S.H.I., M.H. dalam Dialog Kajian Islami, Jumat, 13 Februari 2026. Ia menegaskan umat mengamati langit yang sama dengan pendekatan berbeda.
Menurutnya, istilah satu langit beragam cara menggambarkan variasi metode penentuan hilal. Perbedaan muncul pada cara mengamati dan menafsirkan keberadaan bulan sabit awal.
“Kita mengamati langit yang sama, tetapi cara mengamatinya belum tentu sama,” ujar Riza. Ia menekankan diskusi ini bukan untuk menentukan pihak yang paling benar.
Riza menjelaskan, Al-Qur’an telah memberi landasan syar’i terkait hilal sebagai penanda waktu. Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 189 tentang fungsi hilal.
Ayat tersebut menegaskan hilal sebagai tanda waktu bagi manusia dan ibadah haji. Karena itu, acuan kalender Qamariah didasarkan pada peredaran bulan.
Ia menambahkan, terdapat puluhan hadis tentang rukyat yang menjadi dasar penentuan awal bulan. Hadis yang sering dirujuk berbunyi “sumu li ru’yatihi wa afthiru li ru’yatihi.”
“Makna melihat hilal dalam hadis itu ditafsirkan beragam oleh ulama,” katanya. Perbedaan penafsiran inilah yang melahirkan metode hisab dan rukyat.
Riza berharap masyarakat memahami perbedaan sebagai bagian dari khazanah keilmuan Islam. Sikap saling menghormati dinilai penting dalam menyambut Ramadan 1447 Hijriah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....