Kemenag Aceh Imbau Masyarakat Bijak Sikapi Perbedaan Awal Ramadan

  • 17 Feb 2026 18:50 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh mengimbau masyarakat agar bijak dan tidak terprovokasi dalam menyikapi potensi perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah.

Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menyampaikan bahwa perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriah merupakan dinamika yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Namun demikian, umat Islam diminta tetap menjaga persatuan dan menghormati keputusan yang ditetapkan pemerintah.

Menurut Azhari, penetapan awal Ramadan dilakukan berdasarkan mekanisme hisab dan rukyat yang telah diatur secara syar’i dan ilmiah. Jika hilal tidak terlihat pada tanggal 29 Syakban, maka bulan tersebut disempurnakan menjadi 30 hari, sebagaimana tuntunan dalam fikih Islam.

Ia menegaskan, masyarakat yang belum memahami secara mendalam metode hisab dan rukyat sebaiknya mengikuti keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat yang diumumkan Menteri Agama Republik Indonesia.

“Yang lebih baik, lebih bagus, kita mengikuti pengumuman pemerintah agar tidak terjadi khilafiah dalam pelaksanaan ibadah puasa,” ujarnya.

Azhari juga mengingatkan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Ia berharap masyarakat Aceh dapat mengedepankan ukhuwah Islamiyah dan saling menghormati jika terdapat perbedaan pandangan.

Dalam konteks kehidupan beragama di Aceh yang dikenal religius, ia optimistis masyarakat mampu menyikapi perbedaan dengan kedewasaan dan tetap menjaga keharmonisan sosial.

Kanwil Kemenag Aceh pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah dan bersama-sama menyambut Ramadan dengan penuh kesiapan, ketenangan, serta semangat persaudaraan.

Sementara itu pemantauan hilal di Aceh pada Selasa 17 Februari 2026 diperkirakan tidak terlihat. Secara astronomi, posisi hilal masih berada di bawah ufuk sehingga tidak memungkinkan untuk terlihat saat matahari terbenam.

"Secara hisab hari ini posisi hilalnya itu masih minus di bawah ufuk, artinya masih minus 0,93 derajat di bawah ufuk. Dalam bahasa lain dengan kaki langit horizon itu masih di bawah nanti ketika terbenam matahari. Jadi secara konsep hisab itu memang tidak ada hilal hari ini," kata Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh Alfirdaus Putra.

Alfirdaus mengatakan berdasarkan perhitungan hisab, ketinggian hilal di seluruh Indonesia, termasuk Aceh, masih minus atau berada di bawah horizon.

“Secara konsep astronomi, hilal di Aceh atau Indonesia memang masih minus. Jadi kemungkinan untuk terlihat memang tidak mungkin,” ujarnya.

Selain faktor ketinggian hilal, kondisi cuaca juga menjadi kendala. Berdasarkan laporan tim rukyatul hilal dan informasi dari BMKG, sebagian besar wilayah Aceh dalam kondisi berawan saat waktu pengamatan.

“Dua parameter ini tidak mendukung, baik dari sisi ketinggian hilal maupun kondisi cuaca,” kata Alfirdaus.

Sesuai kaidah fikih, katanya, pemantauan hilal dilakukan pada tanggal 29 bulan berjalan. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari.

Sementara dalam kalender Hijriah, satu bulan hanya terdiri dari 29 atau 30 hari. Tidak ada ketentuan bulan berjumlah 31 hari. Karena itu, jika hilal tidak terlihat pada hari ke-29, maka secara otomatis bulan berjalan disempurnakan menjadi 30 hari.

Tim Falakiyah Aceh melakukan pengamatan resmi di Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang, Lhoknga, dan hasilnya akan dilaporkan ke Kementerian Agama RI sebagai bahan sidang isbat penentuan awal Ramadan.

Dengan tidak terlihatnya hilal, besar kemungkinan awal Ramadan versi pemerintah akan dimulai lusa (Kamis 19 Februari 2026) setelah bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari. Namun keputusan final tetap menunggu pengumuman resmi Menteri Agama usai sidang isbat di Jakarta malam ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....