Semangat Piala Dunia Hidupkan UMKM Dan Warung Kopi Aceh

  • 17 Jul 2026 21:42 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh – Perhelatan Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan antusiasme bagi pecinta sepak bola, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banda Aceh. Meningkatnya aktivitas nonton bareng (nobar) di warung kopi dan kafe dinilai mampu mendorong pertumbuhan omzet pelaku usaha, khususnya di sektor kuliner.

Hal itu mengemuka dalam program Talkshow Banda Aceh Menyapa yang disiarkan RRI Banda Aceh Programa 1 dari Joint Coffee, Banda Aceh, Senin (13/7/2026). Diskusi menghadirkan Pengamat Sepak Bola H. Aminullah Usman, S.E., A.K., M.M., Anggota DPRK Banda Aceh sekaligus Owner Joint Coffee Muhammad Zidan Al Hafidh, S.Ked., M.M., serta Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kota Banda Aceh Bukhari Sufi, S.Sos., M.Si.

Pengamat sepak bola H. Aminullah Usman mengatakan sepak bola telah menjadi salah satu industri hiburan terbesar di dunia yang memberikan efek berganda terhadap perekonomian. Menurutnya, penyelenggaraan Piala Dunia tidak hanya berdampak pada negara tuan rumah, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi hingga ke daerah.

"Sepak bola telah menghipnotis ekonomi dunia. Ketika ada turnamen besar seperti Piala Dunia, sektor transportasi, pariwisata, restoran, hingga warung kopi ikut bergerak. Di Banda Aceh, warung kopi dan kafe menjadi pusat aktivitas masyarakat untuk menikmati pertandingan bersama," ujarnya.

Ia menilai budaya menonton sepak bola bersama telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Aceh. Karena itu, momentum tersebut perlu dimanfaatkan sebagai peluang usaha yang berkelanjutan, tidak hanya saat Piala Dunia berlangsung, tetapi juga pada kompetisi sepak bola lainnya seperti Liga Champions, liga domestik, maupun Piala Eropa.

Menurut Aminullah, pelaku UMKM perlu terus berinovasi agar mampu mempertahankan pelanggan. Selain menghadirkan tayangan pertandingan, kualitas produk makanan, minuman, dan pelayanan harus terus ditingkatkan sehingga masyarakat memiliki alasan untuk kembali berkunjung.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kota Banda Aceh Bukhari Sufi mengatakan sektor kuliner menjadi salah satu usaha yang paling merasakan dampak positif selama berlangsungnya Piala Dunia. Ia mengamati warung kopi, kafe, hingga pelaku usaha makanan mengalami peningkatan permintaan, terutama menjelang pertandingan dimulai.

Menurut Bukhari, Pemerintah Kota Banda Aceh juga berupaya memanfaatkan momentum tersebut melalui berbagai kegiatan yang melibatkan pelaku UMKM, termasuk rencana penyelenggaraan nonton bareng di ruang publik agar masyarakat dapat menikmati pertandingan sekaligus memberi ruang bagi pedagang lokal untuk berjualan.

Di luar momentum Piala Dunia, kata dia, pemerintah terus memberikan dukungan melalui pelatihan peningkatan kapasitas pelaku usaha, penguatan pemasaran digital, hingga akses pembiayaan agar UMKM mampu berkembang secara berkelanjutan.

"Kami ingin UMKM tidak hanya berkembang saat ada event besar. Pelatihan produksi, pemasaran digital, hingga penguatan kapasitas terus kami lakukan agar pelaku usaha mampu bersaing dalam jangka panjang," katanya.

Di sisi lain, Owner Joint Coffee sekaligus Anggota DPRK Banda Aceh Muhammad Zidan Al Hafidh mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat menyaksikan pertandingan Piala Dunia turut berdampak pada peningkatan jumlah pengunjung.

Ia menyebut peningkatan mulai terasa ketika kompetisi memasuki babak semifinal. Dibandingkan fase awal turnamen, jumlah pelanggan yang datang untuk menyaksikan pertandingan meningkat sekitar 30 persen.

Menurut Zidan, suasana nonton bersama di warung kopi memberikan pengalaman yang tidak dapat diperoleh ketika menyaksikan pertandingan di rumah. Interaksi antarpendukung, atmosfer pertandingan, hingga kebersamaan menjadi daya tarik utama yang membuat masyarakat memilih berkumpul di kafe.

Untuk mendukung kenyamanan pelanggan, pihaknya melakukan berbagai persiapan, mulai dari penataan area menonton, penambahan kapasitas tempat duduk, pemutaran cuplikan pertandingan sebelum laga dimulai, hingga memastikan ketersediaan makanan dan minuman selama pertandingan berlangsung.

Meski demikian, Zidan mengingatkan agar euforia sepak bola tidak disalahgunakan untuk aktivitas yang bertentangan dengan hukum maupun nilai-nilai syariat Islam. Ia mengajak masyarakat menjadikan sepak bola sebagai sarana hiburan, mempererat silaturahmi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

Senada dengan itu, Aminullah mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan momentum Piala Dunia sebagai peluang mencari rezeki yang halal melalui kegiatan usaha. Ia menegaskan bahwa semangat kompetisi di lapangan tidak boleh menimbulkan permusuhan antarsuporter.

Bukhari juga mengimbau pelaku UMKM agar tetap menjaga kualitas produk dan pelayanan meskipun permintaan meningkat selama berlangsungnya Piala Dunia. Menurutnya, kualitas yang konsisten menjadi kunci agar pelanggan tetap datang setelah euforia turnamen berakhir.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas sepak bola, momentum Piala Dunia diharapkan tidak hanya menjadi pesta olahraga, tetapi juga mampu memperkuat ekonomi lokal serta memperluas peluang usaha bagi UMKM di Banda Aceh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....