Ahmad Muzani: Jika Aceh Sakit, Kita Semua Sakit

  • 11 Feb 2026 00:16 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Muzani menegaskan, Aceh merupakan bagian penting dari Republik Indonesia yang tidak bisa dipisahkan dari nasib bangsa secara keseluruhan. Menurutnya, kondisi Aceh pascabencana alam yang terjadi pada akhir November 2025 lalu harus menjadi perhatian bersama, karena kata Muzani, “jika Aceh sakit, maka kita semua akan sakit.”

Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad Muzani saat memimpin kunjungan delegasi pimpinan MPR RI ke Aceh untuk meninjau kondisi pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di kantor Gubernur Aceh Selasa 10 Februari 2026.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan MPR RI bertemu dengan Pemerintah Aceh yang diwakili Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta turut dihadiri Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Pada kunjungan itu Delegasi MPR RI juga turut menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada 8 Kabupaten/kota di Aceh yang terdampak parah bencana. 

Ahmad Muzani menyebutkan, tujuan utama kunjungan tersebut adalah memberikan penguatan dan dukungan moril kepada masyarakat Aceh yang terdampak bencana pada akhir November lalu. Ia menegaskan kehadiran pimpinan MPR RI merupakan wujud empati, simpati, dan solidaritas nasional kepada rakyat Aceh yang tengah menghadapi musibah.

"Aceh adalah bagian penting dari Republik Indonesia. Kita maju, Aceh harus maju. Aceh maju, kita pun akan maju. Aceh aman, kita aman. Karena itulah, sakitnya Aceh adalah sakit kita semua,” katanya. 

Selain memberikan dukungan moril, delegasi MPR RI juga ingin melihat secara langsung perkembangan pemulihan di lapangan. Berdasarkan paparan Wakil Gubernur Aceh, Muzani menilai telah terdapat kemajuan yang cukup signifikan dalam proses pemulihan, dan hasilnya mulai dirasakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah terdampak.

Dalam pertemuan tersebut, Muzani juga mendengarkan laporan Kepala Satuan Tugas Percepatan Pemulihan Pascabencana yang disampaikan oleh Mendagri Tito Karnavian. Ia mengapresiasi progres kerja yang telah dicapai dalam waktu lebih dari satu bulan sejak Satgas dibentuk, khususnya di Provinsi Aceh.

“Kami mengapresiasi kerja keras Kepala Satgas beserta seluruh jajarannya, TNI, Polri, BNPB, dan Kementerian Sosial. Namun demikian, kerja cepat dan bahkan lebih kilat lagi masih diperlukan, karena masyarakat yang terdampak masih menunggu dengan kesabaran yang luar biasa,” ujar Muzani.

"Ketabahan dan kesabaran masyarakat Aceh dalam menghadapi musibah patut mendapat penghormatan. Masyarakat Aceh sebagai masyarakat yang kuat, sabar, dan tangguh, sehingga negara berkewajiban hadir secara maksimal untuk mempercepat pemulihan kehidupan mereka," sambungnya. 

Muzani juga menilai, perhatian pemerintah pusat terhadap Aceh cukup besar, termasuk kehadiran langsung Presiden Prabowo Subianto yang disebutnya telah berulang kali turun ke lokasi terdampak bencana. Perhatian tersebut, kata Muzani, menunjukkan bahwa Aceh memiliki posisi strategis dan historis yang sangat penting bagi Indonesia.

Muzani turut menyinggung sejumlah aspirasi Pemerintah Aceh, di antaranya permintaan pelonggaran sementara kebijakan barcode BBM agar alat berat dapat bergerak lebih cepat dalam proses pemulihan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan akses antarwilayah. Ia memastikan telah membahas hal tersebut bersama Mendagri dan menilai tidak ada kendala serius.

Selain itu, Muzani juga menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan tradisi meugang menjelang Ramadan serta percepatan pemulihan jaringan listrik yang kini telah mencapai sekitar 99 persen. Ia menilai upaya petugas di lapangan sebagai bentuk pengabdian tulus negara kepada rakyat Aceh, meskipun menghadapi tantangan geografis yang berat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....