Pemerintah Siapkan Penanganan Darurat Longsor di Aceh Tengah
- 07 Feb 2026 22:37 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Aceh Tengah - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan penanganan longsoran tanah di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, harus dilakukan secara maksimal. Pemerintah pusat akan segera menyiapkan langkah teknis dan penanganan darurat guna mencegah dampak yang lebih luas, sekaligus menjamin keselamatan masyarakat serta kelancaran akses transportasi antarkabupaten.
Hal tersebut disampaikan Menteri Dody saat meninjau langsung lokasi longsoran yang menggerus badan jalan penghubung Kabupaten Aceh Tengah dengan Kabupaten Bener Meriah. Kondisi ini membuat akses utama antarwilayah terancam putus, sehingga memerlukan penanganan segera dari pemerintah.
“Penanganan longsoran ini harus dilakukan secara maksimal agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” kata Menteri PU Dody Hanggodo .
Menteri Dody mengatakan, langkah penanganan dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Pemerintah memastikan seluruh upaya teknis akan dikerahkan untuk mengamankan lokasi serta memulihkan fungsi jalan secara bertahap.
“Kami akan segera menyiapkan langkah teknis dan penanganan darurat untuk menjamin keselamatan masyarakat serta kelancaran akses transportasi antarwilayah,” ujarnya.
Longsoran yang sebelumnya disebut sebagai sinkhole tersebut kini diidentifikasi para ahli sebagai piping erosion atau erosi bawah permukaan. Proses ini menyebabkan struktur tanah menjadi rapuh dan memicu longsoran yang terus meluas.
Saat peninjauan berlangsung, situasi sempat menegangkan. Tercatat tiga kali suara runtuhan tanah terdengar dari area longsoran. Getaran bahkan dirasakan hingga sekitar 20 meter dari titik Menteri Dody berdiri.
Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, luas longsoran pada 2021 tercatat mencapai 20.199 meter persegi. Saat ini, luasnya berkembang menjadi sekitar 30 ribu meter persegi, atau bertambah sekitar 10 ribu meter persegi dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, Badan Geologi Kementerian ESDM menyebutkan sejumlah faktor penyebab gerakan tanah, antara lain kondisi batuan yang mudah lepas saat terkena air, kemiringan lereng, erosi lateral, serta sistem drainase yang membuat lereng tidak stabil dan jenuh air.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....