Cara Mengolah Kuliner Aceh "Sie Reuboh" yang Lezat

  • 15 Jan 2025 01:37 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Aceh dikenal dengan kuliner yang menggugah selera. Salah satu hidangan tradisional yang tak bisa dilewatkan adalah sie reuboh. Makanan ini memiliki rasa yang khas dan merupakan bagian dari warisan budaya Aceh yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya.

Sie Reuboh merupakan hidangan khas Aceh yang terbuat dari daging sapi atau kambing yang dimasak dengan bumbu khas Aceh. Nama sie reuboh sendiri berasal dari bahasa Aceh, yang artinya adalah "daging rebus." Proses memasaknya yang sederhana, namun kaya rasa, menjadikan hidangan ini sangat populer di kalangan masyarakat Aceh.

Sie reuboh biasanya disajikan dengan nasi putih hangat dan menjadi hidangan utama dalam berbagai acara adat maupun saat perayaan hari keagamaa, seperti menyambut bulan suci Ramadan dan lebaran.

Lalu bagaimana cara memasak atau mengolah kuliner yang satu ini agar rasanya nikmat dan lezat ? Indra Suliati, Owner Putra Food salah satu warung kuliner tradisional khas Aceh yang berada di Banda Aceh berbagi tips cara memasak Sie Reuboh yang enak.

Dalam wawancara bersama PRO 4 RRI Banda Aceh di program SIEREBOH (Siaran Informasi Budaya Obrolan dan Hiburan) Senin (13/1/2025) I Suliati, berbagi cerita mengenai usaha kuliner tradisional yang digelutinya.

Menurut Suliati hidangan yang paling diminati pelanggan di warungnya adalah sie reuboh, ayam tangkap, dan bumbu rujak. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah si reuboh hidangan khas Aceh yang menjadi menu andalan.

Indra Suliati, Owner Putra Food salah satu warung kuliner tradisional khas Aceh yang berada di Banda Aceh dalam wawancara bersama PRO 4 RRI Banda Aceh di program SIEREBOH (Siaran Informasi Budaya Obrolan dan Hiburan) Senin (13/1/2025).

Berbeda dengan sie reuboh yang pada umumnya menggunakan cuka sebagai bahan dasar asam, Suliati memilih jeruk perut yang memberikan aroma khas dan segar. “Bahan-bahannya tidak banyak, hanya cabai merah dan cabai rawit, tanpa bawang putih agar dagingnya tidak cepat hancur,” beber Suliati.

Proses pembuatan sie reuboh di Putroe Food juga sangat memperhatikan kesegaran bahan dan kehalalan produk. “Kami selalu memproses makanan sesuai dengan budaya Aceh dan prinsip halal. Semua bahan, seperti kelapa gonseng dan ketumbar gonseng, kami buat sendiri agar tetap segar,” ungkap Suliati yang sudah menggeluti dunia usaha kuliner khas Aceh sejak sebelum pandemic Covid 19.

Suliati menyatakan, Putroe Food telah mendapatkan sertifikat halal untuk produk-produk yang disajikan. Menurutnya, makna di balik makanan tradisional Aceh yang diolah dengan cara seperti ini bukan hanya tentang cita rasa, tetapi juga untuk mempertahankan warisan budaya Aceh.

“Sie Reuboh semakin enak setelah dipanaskan beberapa kali, karena bumbunya meresap dengan sempurna,” kata Suliati menekankan bahwa setiap hidangan di Putroe Food dibuat dengan penuh cinta dan perhatian terhadap detail.

Selain cita rasa yang luar biasa, sie reuboh juga memiliki makna budaya yang mendalam. Makanan ini menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan dalam keluarga atau masyarakat Aceh. Proses memasak dan berbagi sie reuboh juga menjadi cara orang Aceh untuk mempertahankan ikatan sosial dan tradisi yang sudah turun temurun.

Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....