PMOS Dapat Ganggu Kesuburan, Dokter Minta Perempuan Tak Menunggu Sulit Hamil

  • 04 Okt 2026 22:55 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Gangguan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) dapat berkaitan dengan masalah kesuburan pada perempuan sehingga pemeriksaan sebaiknya tidak baru dilakukan setelah pasangan mengalami kesulitan mendapatkan keturunan. Dokter mengingatkan gangguan menstruasi dan tanda hormonal yang muncul sejak usia muda perlu diperhatikan agar penyebabnya dapat diketahui lebih awal.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS Hermina Aceh, dr. Mala Hayati, Sp.OG, menyampaikan hal tersebut dalam Dialog Asokaya Pro 4 RRI Banda Aceh, Sabtu 3 Oktober 2026. Menurutnya, cukup banyak perempuan yang baru mengetahui adanya gangguan hormonal setelah menikah dan menjalani pemeriksaan karena belum mendapatkan kehamilan.

Dr. Mala menjelaskan PMOS dapat menyebabkan gangguan ovulasi sehingga proses pelepasan sel telur tidak berlangsung secara teratur. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi peluang terjadinya kehamilan, namun ia menegaskan persoalan kesuburan tidak selalu berasal dari pihak perempuan sehingga pemeriksaan perlu dilakukan secara menyeluruh.

Dalam dialog tersebut, seorang pendengar yang telah menikah selama sekitar sepuluh tahun dan belum memiliki anak menanyakan kemungkinan PMOS sebagai penyebab meskipun siklus menstruasinya teratur. Dr. Mala menjelaskan pemeriksaan kesuburan perlu melihat berbagai kemungkinan, termasuk kondisi organ reproduksi perempuan, faktor hormonal, hingga kualitas sperma pasangan.

Ia menyebut pemeriksaan terhadap pasangan laki-laki juga tidak boleh diabaikan karena infertilitas dapat disebabkan oleh faktor perempuan, laki-laki maupun kombinasi keduanya. Pemeriksaan dapat meliputi ultrasonografi untuk melihat kondisi rahim dan ovarium, pemeriksaan hormonal bila diperlukan, serta analisis sperma pada pasangan laki-laki.

Dr. Mala juga mengingatkan bahwa gangguan menstruasi yang berlangsung lama dapat menimbulkan komplikasi apabila tidak ditangani dengan tepat. Ia bahkan membagikan pengalaman menangani pasien berusia 28 tahun yang mengalami kanker endometrium dengan latar belakang obesitas dan riwayat gangguan menstruasi sejak remaja, sehingga perubahan pola menstruasi tidak seharusnya dianggap sebagai kondisi biasa.

“Take home message-nya itu adalah jangan diabaikan,” tegas dr. Mala Hayati. Ia mengimbau perempuan yang mengalami haid tidak teratur, perdarahan yang sangat banyak maupun keluhan lain untuk memeriksakan diri kepada dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan penanganan dilakukan lebih dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....