Perempuan Diminta Kenali Lima Tanda PMOS sejak Remaja
- 04 Okt 2026 22:54 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh : Perempuan diminta mengenali tanda-tanda Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) sejak usia remaja, mengingat gangguan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesuburan, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi hormonal dan metabolisme tubuh. Deteksi lebih awal dinilai penting agar gangguan tersebut tidak baru diketahui ketika perempuan telah mengalami kesulitan untuk mendapatkan keturunan.
Hal tersebut disampaikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS Hermina Aceh, dr. Mala Hayati, Sp.OG, dalam Dialog Asokaya Pro 4 RRI Banda Aceh, Sabtu 3 Oktober 2026. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap PCOS hanya berkaitan dengan adanya kista pada ovarium, padahal kondisi tersebut memiliki cakupan yang lebih luas.
“Jadi sebenarnya dari pertengahan tahun ini, PCOS itu udah diganti namanya, jadi PMOS,” ujar dr. Mala Hayati. Ia menjelaskan, kondisi tersebut tidak hanya melibatkan ovarium, tetapi juga berkaitan dengan sistem endokrin, metabolisme, kesehatan reproduksi, bahkan dapat berhubungan dengan kondisi psikologis dan pola tidur seseorang.
Dr. Mala menjelaskan terdapat tiga kriteria utama yang dapat menjadi dasar dalam mengenali PMOS, yakni gangguan ovulasi atau menstruasi, kelebihan hormon androgen, serta gambaran ovarium polikistik berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi. “Kalau ada dua saja dari ketiga kriteria tersebut kita sudah diagnosis itu PMOS,” katanya, seraya menegaskan bahwa tidak semua perempuan harus mengalami seluruh tanda tersebut.
Gangguan menstruasi menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan karena siklus yang terlalu panjang, terlalu pendek, perdarahan yang sangat banyak maupun terlalu sedikit dapat menjadi petunjuk adanya gangguan ovulasi. Sementara itu, kelebihan androgen dapat terlihat melalui pertumbuhan rambut berlebih di wajah, dada atau bagian tubuh tertentu, serta munculnya jerawat yang sulit dikendalikan.
Menurut dr. Mala, PMOS dapat dialami perempuan dengan berbagai kondisi tubuh dan tidak selalu ditemukan pada perempuan dengan berat badan berlebih. Faktor genetik, pola hidup kurang aktif, pola makan yang kurang sehat serta obesitas dapat meningkatkan risiko, sehingga perempuan perlu memperhatikan perubahan tubuh dan mencatat siklus menstruasinya secara berkala.
“Jadi jangan self diagnos ya, jangan diagnosis sendiri,” tegas dr. Mala Hayati. Ia mengingatkan perempuan yang mengalami gangguan menstruasi berulang atau tanda-tanda lain yang mengarah pada PMOS untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai kondisi masing-masing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....