Mengenal Ancaman Sindrom Metabolik dalam Rutinitas Kehidupan Modern
- 02 Sep 2026 18:10 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh: Gaya hidup modern yang serba cepat dan praktis ternyata menyimpan ancaman kesehatan yang kerap tidak disadari. Kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan duduk terlalu lama, serta pola konsumsi makanan tinggi gula, karbohidrat, dan lemak dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom metabolik.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam dialog Klinik Angkasa Programa 1 RRI Banda Aceh bersama dokter spesialis penyakit dalam dr. Ulva Yogia Guslaf, Sp.PD, Sabtu 29 Agustus 2026. Dialog tersebut mengangkat tema “Sindrom Metabolik: Bom Waktu di Balik Gaya Hidup Modern.”
Ia menjelaskan, sindrom metabolik bukan merupakan satu penyakit tunggal, melainkan kumpulan sejumlah kondisi yang saling berkaitan. “Kondisi tersebut antara lain obesitas sentral atau penumpukan lemak di perut, tekanan darah tinggi, kadar trigliserida tinggi, kadar kolesterol HDL rendah, serta peningkatan gula darah puasa. Seseorang dapat dikategorikan mengalami sindrom metabolik apabila memenuhi sedikitnya tiga dari lima kriteria tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, sindrom metabolik sering disebut sebagai “bom waktu” karena perkembangannya dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas. “Resistensi insulin menjadi salah satu masalah yang dapat berkembang dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan lemak darah, hingga penyakit kardiovaskular dan gangguan ginjal,” ucapnya.
Kondisi tersebut semakin relevan di tengah rutinitas masyarakat yang semakin minim gerak. “Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa sedentary lifestyle, seperti terlalu lama duduk, menonton televisi, bermain gim, bekerja di depan komputer, maupun menggunakan kendaraan untuk jarak dekat, dapat berdampak buruk terhadap kesehatan,” jelasnya.
Tidak hanya orang dengan berat badan berlebih, masyarakat yang terlihat kurus juga perlu mewaspadai risiko tersebut. Penumpukan lemak viseral dapat terjadi meskipun seseorang tampak memiliki tubuh ideal dari luar.
dr. Ulva mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup merupakan langkah penting untuk mencegah sindrom metabolik. Masyarakat dianjurkan meningkatkan aktivitas fisik, mengurangi makanan tinggi gula, lemak, karbohidrat dan garam, serta menjaga pola tidur dan mengelola stres. Aktivitas fisik intensitas ringan hingga sedang sekitar 150 menit per minggu dapat menjadi salah satu upaya menjaga kesehatan metabolik.
“Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting dilakukan meskipun belum merasakan keluhan. Pemeriksaan lingkar perut, tekanan darah, gula darah, dan profil lemak dapat membantu mendeteksi risiko lebih awal,” tambahnya.
Ancaman sindrom metabolik bahkan perlu diperhatikan sejak usia muda. Studi yang menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menemukan prevalensi sindrom metabolik sebesar 13,36 persen pada remaja dan dewasa muda usia 16–24 tahun, dengan obesitas dan perilaku konsumsi berisiko menjadi faktor yang berhubungan signifikan dengan kondisi tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....