Kenali Penularan Hepatitis: Bukan lewat Makanan, tapi Melalui Darah
- 10 Agt 2026 18:41 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Hepatitis A, B, dan C merupakan jenis hepatitis yang paling sering ditemukan di Indonesia. Ketiganya memiliki karakteristik dan pola penularan yang berbeda, sehingga masyarakat perlu memahami cara penularannya untuk mencegah infeksi.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dr. Andri Gunawan, SpPD FINA SIM dari klinik Bunda Thamrin Banda Aceh, mengatakan hepatitis A dan E umumnya berkaitan dengan makanan yang telah terkontaminasi virus. Berbeda dengan hepatitis B dan C yang penularannya terjadi melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh yang terkontaminasi.
“Di Indonesia itu kita sering mendapatkan tiga, A, B, C. Sedangkan D dan E ini jarang. Hepatitis A dan E itu penyebabnya sering dari makanan,” kata Andri dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh Pro 1 pada program Klinik Angkasa, Sabtu 8 Agustus 2026.
Menurutnya, hepatitis A dan E memiliki karakteristik berbeda dengan hepatitis B dan C karena pada kondisi tertentu dapat sembuh dengan sendirinya. Sistem kekebalan tubuh yang baik dapat membantu penderita melawan infeksi hingga pulih.
Sementara itu, hepatitis B dan C cenderung lebih berbahaya karena infeksi dapat berlangsung tanpa menimbulkan gejala. Kondisi tersebut membuat penderita sering tidak menyadari telah terinfeksi dan tidak segera mendapatkan pemeriksaan maupun pengobatan.
“Kalau B dan C ini kalau terkena virusnya kadang tidak muncul gejala apa pun dulu. Inilah yang sering membuat pasien tidak pernah berobat atau kontrol ke dokter. Nanti tiba-tiba datangnya sudah dengan kondisi sirosis,” jelasnya.
| Baca juga: Peran Vital Organ Hati untuk Kesehatan Tubuh |
Andri menegaskan hepatitis B dan C tidak menular melalui makanan maupun keringat. Penularannya terutama berkaitan dengan darah yang telah terkontaminasi virus, seperti melalui transfusi darah yang tidak aman atau penggunaan jarum suntik secara bersama-sama.
Selain itu, hepatitis B juga dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat proses persalinan. Menurut Andri, kondisi tersebut bukan merupakan penyakit genetik, melainkan penularan virus melalui paparan darah selama proses kelahiran.
“Dia bukan genetik, tapi menular memang. Jadi pada ibu yang hepatitis B ketika proses persalinan, itu bisa kena ke bayinya,” ujarnya.
| Baca juga: Pentingnya Organ Hati Dijaga sejak Dini |
Ia menambahkan, penularan juga dapat terjadi ketika seseorang mengalami kontak langsung dengan darah penderita yang terinfeksi. Karena itu, masyarakat perlu menghindari kontak dengan darah orang lain, terutama jika terdapat luka terbuka.
Andri mengatakan banyak kasus hepatitis B dan C justru ditemukan secara tidak sengaja ketika seseorang menjalani pemeriksaan kesehatan untuk keperluan lain. Misalnya, pasien yang masuk rumah sakit karena kecelakaan kemudian menjalani pemeriksaan darah sebelum mendapatkan tindakan medis.
“Sering pasien-pasien itu malah dapatnya ketika screening atau pemeriksaan darah. Tiba-tiba baru tahu di situ, sebelumnya tidak ada keluhan,” katanya.
Karena itu, pemeriksaan atau skrining menjadi penting, terutama bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko terpapar darah. Deteksi lebih awal memungkinkan infeksi diketahui sebelum berkembang menjadi kerusakan hati yang lebih berat.
Andri mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh hepatitis hanya karena tidak merasakan gejala. Khusus hepatitis B dan C, infeksi yang tidak terdeteksi dan tidak ditangani dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis hingga sirosis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....