Diagnosis Tepat Cegah Dampak Buruk Alergi Pada Anak

  • 29 Jun 2026 16:47 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh – Alergi pada anak masih menjadi persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian serius dari orang tua karena dapat memengaruhi tumbuh kembang, status gizi, hingga kualitas hidup anak apabila tidak ditangani secara tepat. Edukasi mengenai hal tersebut disampaikan dalam program Klinik Angkasa Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu (27/6/2026), bertajuk "Kupas Tuntas Alergi pada Anak" dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026.

Narasumber, dr. Hirsa Agriani, Sp.A, Anggota Unit Kerja Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Aceh, mengatakan masih banyak orang tua yang menganggap alergi sebagai kondisi ringan atau justru mendiagnosis sendiri penyebab alergi anak berdasarkan informasi di media sosial maupun internet.

Menurutnya, kedua kondisi tersebut sama-sama berbahaya. Diagnosis yang berlebihan dapat membuat orang tua memantang berbagai jenis makanan tanpa dasar medis sehingga anak berisiko mengalami kekurangan nutrisi. Sebaliknya, jika alergi dianggap sepele, peradangan yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan berdampak pada pertumbuhan serta perkembangan anak.

"Alergi bukan hanya gatal atau bersin yang bisa diabaikan. Pada anak, alergi dapat mengganggu pertumbuhan, perkembangan, kualitas tidur, konsentrasi belajar, bahkan kondisi psikologisnya," kata dr. Hirsa.

Ia menjelaskan, alergi merupakan reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti protein susu sapi, telur, debu, tungau, maupun serbuk sari. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor genetik dan lingkungan.

Anak yang memiliki salah satu orang tua dengan riwayat alergi memiliki peluang sekitar 20 hingga 40 persen mewarisi bakat alergi. Risiko tersebut meningkat menjadi 60 hingga 80 persen apabila kedua orang tua sama-sama memiliki riwayat alergi. Namun, yang diturunkan adalah bakat alerginya, bukan jenis penyakit alergi yang sama.

Selain faktor keturunan, paparan lingkungan seperti asap rokok, debu, tungau, pola persalinan, hingga pemberian ASI eksklusif turut memengaruhi munculnya alergi pada anak.

Dr. Hirsa menyebutkan, berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia, alergi susu sapi masih menjadi jenis alergi yang paling banyak ditemukan pada anak Indonesia, disusul dermatitis atopik dan alergi makanan lainnya.

Ia menerangkan bahwa alergi susu sapi terjadi akibat respons tubuh terhadap protein susu sapi, bukan kandungan laktosanya. Karena itu, masyarakat perlu memahami perbedaan antara alergi susu sapi dan intoleransi laktosa yang hanya berkaitan dengan gangguan pencernaan akibat tubuh tidak mampu mencerna gula susu.

Dalam penegakan diagnosis, dr. Hirsa mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru melakukan tes alergi atau menghilangkan makanan tertentu dari pola makan anak tanpa pemeriksaan dokter. Diagnosis harus diawali dengan wawancara medis dan pemeriksaan fisik untuk memastikan apakah keluhan benar disebabkan oleh alergi.

Jika dicurigai sebagai alergi tipe cepat yang muncul kurang dari satu jam setelah paparan alergen, pemeriksaan seperti tes IgE atau skin prick test dapat dilakukan. Sementara pada alergi tipe lambat, pendekatan yang dianjurkan adalah eliminasi makanan yang dicurigai, kemudian dilakukan uji provokasi secara bertahap sesuai rekomendasi dokter.

"Jangan langsung menyimpulkan anak alergi hanya karena membaca informasi di internet. Diagnosis harus dipastikan agar penanganannya tepat dan kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi," ujarnya.

Ia juga mengingatkan orang tua untuk mengenali gejala alergi berat atau anafilaksis, seperti munculnya ruam pada kulit disertai sesak napas, penurunan kesadaran, atau muntah hebat setelah terpapar alergen. Kondisi tersebut merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera di rumah sakit.

Sementara pada gejala ringan seperti bentol atau gatal, orang tua dianjurkan menjauhkan anak dari alergen yang dicurigai, memberikan obat antihistamin sesuai anjuran tenaga kesehatan, kemudian berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk memastikan penyebabnya.

Dr. Hirsa menambahkan, tidak semua alergi akan menetap seumur hidup. Alergi susu sapi dan telur umumnya dapat menghilang seiring bertambahnya usia karena sistem pencernaan dan sistem kekebalan tubuh anak semakin matang. Namun, beberapa jenis alergi seperti alergi seafood, tungau debu rumah, dan bulu kucing cenderung bertahan hingga dewasa.

Melalui peringatan Hari Anak Nasional 2026, ia mengajak para orang tua untuk meningkatkan kesadaran terhadap gejala alergi pada anak dan tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga medis apabila menemukan tanda-tanda yang mencurigakan.

"Edukasi yang benar akan membantu orang tua mengenali alergi sejak dini sehingga anak tetap memperoleh nutrisi yang optimal, tumbuh sehat, dan berkembang sesuai usianya," tutup dr. Hirsa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....