Deteksi Dini Kanker Serviks Penting Dilakukan, Kenali Tiga Metode Pemeriksaannya
- 18 Jun 2026 11:59 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Kanker leher rahim atau kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan. Penyakit ini kerap berkembang tanpa gejala sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat telah memasuki stadium lanjut.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan deteksi dini merupakan langkah penting untuk menemukan perubahan sel abnormal sebelum berkembang menjadi kanker. Kemenkes juga mendorong perempuan yang telah aktif secara seksual untuk menjalani skrining secara berkala guna meningkatkan peluang pencegahan dan pengobatan sejak dini.
Terdapat beberapa metode skrining yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini, antara lain;
| Baca juga: Ini Fungsi Organ Hati pada Kesehatan |
Tes DNA HPV
Tes DNA HPV bertujuan mendeteksi keberadaan Human Papillomavirus (HPV), virus yang menjadi penyebab utama sebagian besar kasus kanker serviks. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel sel dari leher rahim atau vagina untuk mengetahui ada tidaknya infeksi HPV berisiko tinggi.
Kemenkes menyebut tes DNA HPV direkomendasikan sebagai metode skrining karena mampu mendeteksi risiko kanker serviks lebih awal, bahkan sebelum muncul perubahan sel abnormal pada leher rahim.
| Baca juga: Pentingnya Organ Hati Dijaga sejak Dini |
Tes IVA
Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) merupakan metode skrining yang sederhana dan banyak digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pada pemeriksaan ini, petugas kesehatan mengoleskan asam asetat pada leher rahim untuk melihat adanya lesi prakanker atau perubahan sel yang ditandai munculnya bercak putih (acetowhite).
Menurut Kemenkes, tes IVA dapat dilakukan di fasilitas kesehatan primer karena tidak memerlukan peralatan laboratorium yang kompleks dan hasilnya dapat diketahui dalam waktu singkat.
Pap Smear
Pap smear merupakan salah satu metode skrining yang telah lama digunakan untuk mendeteksi kelainan sel pada leher rahim. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel sel dari serviks untuk mengetahui adanya sel abnormal, baik yang bersifat prakanker maupun sel kanker.
Melalui pemeriksaan ini, kelainan dapat ditemukan lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi kanker yang lebih serius.
Sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV yang ditularkan melalui kontak seksual. Infeksi ini sering tidak menimbulkan gejala sehingga banyak perempuan tidak menyadari dirinya telah terinfeksi.
Tanpa pemeriksaan rutin, infeksi HPV dapat berkembang menjadi perubahan sel abnormal yang berpotensi menjadi kanker serviks. Karena itu, skrining berkala menjadi salah satu strategi utama dalam upaya eliminasi kanker leher rahim yang tengah didorong pemerintah.
Kemenkes menyarankan perempuan yang telah aktif secara seksual untuk melakukan deteksi dini kanker serviks secara berkala. Semakin cepat kelainan ditemukan, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan dan semakin kecil risiko kematian akibat kanker serviks.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....