Peran Kader dan Keluarga Kunci Layanan Lansia Optimal

  • 05 Mei 2026 15:56 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh - Layanan kesehatan bagi usia lanjut (lansia) di posyandu di Aceh dinilai belum sepenuhnya optimal, meski telah mengalami transformasi menuju sistem layanan terpadu berbasis siklus hidup. Hal ini mengemuka dalam dialog “Banda Aceh Menyapa” yang menghadirkan Kepala UPTD Puskesmas Kuta Alam, drg. Lia Silvianty Nasty, dan Tenaga Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Aceh, Nurlaily, pada Senin (4/5/2026).

Nurlaily menjelaskan, paradigma posyandu kini telah bergeser dari layanan sektoral menjadi layanan terintegrasi yang mencakup seluruh siklus hidup, mulai dari bayi hingga lansia. Karena itu, istilah “posyandu lansia” tidak lagi digunakan. “Sekarang posyandu melayani semua kelompok usia dalam satu sistem yang terintegrasi,” ujarnya.

Namun, menurutnya, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan kapasitas kader, terutama dalam memenuhi 25 kompetensi dasar yang dibutuhkan, termasuk lima kompetensi khusus layanan lansia. Selain itu, dukungan sarana seperti alat kesehatan berbasis digital dan bahan medis habis pakai juga masih terbatas.

Dialog “Banda Aceh Menyapa” yang menghadirkan Kepala UPTD Puskesmas Kuta Alam, drg. Lia Silvianty Nasty, dan Tenaga Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Aceh, Nurlaily, pada Senin (4/5). Foto : RRI/Lis.

Senada dengan itu, drg. Lia Silvianty Nasty menyebutkan bahwa pelaksanaan posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam telah berjalan rutin setiap bulan dengan lima tahapan layanan, mulai dari pendaftaran hingga penyuluhan. Layanan bagi lansia meliputi pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, asam urat, serta skrining indra seperti penglihatan dan pendengaran.

Meski demikian, partisipasi lansia masih menjadi persoalan. “Yang datang ke posyandu itu-itu saja. Banyak lansia tidak hadir karena kesibukan menjaga cucu atau keterbatasan mobilitas,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihak puskesmas telah melakukan berbagai pendekatan, termasuk program kunjungan rumah bagi lansia yang tidak mampu datang serta kegiatan senam lansia yang disertai edukasi kesehatan. Namun, keterbatasan alat pemeriksaan dan anggaran menjadi kendala tambahan di tingkat desa.

Nurlaily menambahkan, optimalisasi layanan lansia membutuhkan sinergi berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, puskesmas, kader, dan keluarga. Ia menekankan pentingnya komunikasi efektif oleh kader dalam membangun kedekatan dengan lansia agar mereka lebih termotivasi memanfaatkan layanan posyandu.

“Posyandu adalah milik masyarakat. Kader menjadi ujung tombak untuk mengajak dan memastikan lansia hadir serta mendapatkan layanan kesehatan,” katanya.

Ke depan, Dinas Kesehatan Aceh menargetkan peningkatan kapasitas kader secara berkelanjutan serta mendorong stabilitas kader agar tidak sering diganti. Selain itu, dukungan desa dalam penyediaan sarana dan prasarana juga dinilai krusial.

Sementara itu, drg. Lia menggarisbawahi pentingnya peran keluarga dalam mendukung kesehatan lansia. “Kalau orang tua sehat, tentu tidak menjadi beban bagi keluarga. Karena itu, dukungan anak sangat dibutuhkan, minimal mengantar lansia ke posyandu sebulan sekali,” ujarnya.

Dialog tersebut menyimpulkan bahwa layanan lansia di posyandu di Aceh telah berjalan, namun masih memerlukan penguatan dari berbagai aspek, terutama partisipasi masyarakat, ketersediaan fasilitas, serta kapasitas sumber daya manusia di tingkat akar rumput.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....