Kenali Tanda Awal Campak, Jangan Salah Kira sebagai Panas Dalam
- 04 Mei 2026 11:38 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Penyakit campak masih menjadi salah satu infeksi yang kerap ditemukan pada anak-anak dan memiliki tingkat penularan yang tinggi. Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis anak, dr. Diana Sari, Sp.A, dalam perbincangan bersama RRI Pro 4 Banda Aceh, Sabtu 2Mei 2026.
Menurut dr. Diana, campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, tepatnya virus morbili, bukan bakteri seperti yang masih kerap disalahartikan masyarakat. Penyakit ini juga dikenal dengan sebutan lain seperti measles atau morbili.
“Campak adalah infeksi virus yang sangat menular dan paling sering menyerang anak-anak. Jadi penyebabnya virus, bukan bakteri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perjalanan penyakit campak berlangsung dalam beberapa tahap. Tahap awal dimulai dari masa inkubasi, yakni periode sejak seseorang terpapar virus hingga muncul gejala. Masa ini biasanya berlangsung selama 10 hingga 14 hari.
“Anak yang sudah kontak dengan penderita tidak langsung menunjukkan gejala. Biasanya gejala baru muncul setelah masa inkubasi sekitar 10 sampai 14 hari,” jelasnya.
Setelah itu, pasien memasuki stadium prodromal atau fase awal. Pada fase ini, gejala yang muncul masih bersifat umum, seperti demam, batuk, pilek, lemas, dan tidak spesifik sehingga sering sulit dibedakan dengan infeksi saluran pernapasan biasa.
Namun, terdapat tanda khas yang dapat membantu diagnosis dini, yakni munculnya bercak putih kecil di bagian dalam pipi yang dikenal sebagai Koplik spot. “Kalau dilakukan pemeriksaan, kita bisa menemukan bercak keputihan di dalam pipi, yang disebut Koplik spot. Ini menjadi tanda awal yang khas pada campak,” katanya.
Tahap berikutnya adalah stadium erupsi, di mana muncul ruam kemerahan yang menjadi ciri utama campak. Ruam biasanya dimulai dari area kepala, terutama di belakang telinga dan dahi, kemudian menyebar ke leher, tubuh, hingga ke kaki. Pada fase ini, demam umumnya masih tinggi.
Setelah itu, pasien memasuki fase penyembuhan atau konvalesen. Ruam yang semula berwarna merah akan berubah menjadi kecokelatan, lalu menghitam, mengelupas, dan akhirnya hilang seiring proses pemulihan.
“Perjalanan penyakitnya bertahap, mulai dari tanpa gejala, kemudian demam, muncul ruam, hingga akhirnya sembuh. Biasanya berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama masa sakit, anak yang terinfeksi campak sebaiknya tidak bersekolah untuk mencegah penularan ke anak lain. Terkait kasus di Aceh, dr. Diana menyebutkan bahwa penyakit campak masih terus ditemukan dan belum pernah benar-benar hilang. Bahkan, hampir setiap minggu terdapat pasien campak yang dirawat.
“Di Aceh, kasusnya selalu ada. Salah satu penyebabnya kemungkinan cakupan imunisasi yang belum optimal,” katanya.
Secara nasional, jumlah kasus campak juga tergolong tinggi. Hingga Januari 2026, tercatat sekitar 10 ribu kasus campak di Indonesia. Bahkan, Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di dunia untuk kasus campak setelah Yaman. “Ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi masalah kesehatan yang serius,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, untuk lebih waspada terhadap gejala awal campak dan tidak langsung menganggapnya sebagai penyakit ringan seperti “panas dalam”. Jika anak mengalami demam disertai batuk dan pilek, sebaiknya segera memeriksakan diri ke tenaga medis untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....