Green Nefrologi Dorong Layanan Ginjal Ramah Lingkungan

  • 15 Mar 2026 05:10 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Konsep green nefrologi atau nefrologi berkelanjutan mulai diperkenalkan dalam layanan kesehatan ginjal sebagai upaya mengurangi dampak lingkungan dari tindakan medis. Pendekatan ini mendorong layanan kesehatan tetap optimal bagi pasien sekaligus lebih ramah terhadap lingkungan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Prof. Dr. dr. Maimun Syukri, Sp.PD, KGH, FINASIM, mengatakan konsep tersebut merupakan bagian dari gerakan global yang berkaitan dengan peringatan Hari Ginjal Sedunia. Tema tahun ini menekankan pentingnya merawat pasien sekaligus melindungi bumi dari dampak limbah medis.

“Ini adalah gerakan global yang mengajak tenaga kesehatan untuk merawat pasien sekaligus melindungi bumi. Konsepnya adalah bagaimana pelayanan kesehatan ginjal bisa lebih ramah lingkungan,” ujar Prof. Maimun dalam Dialog Klinik Angkasa di Pro 1 RRI Banda Aceh, Sabtu 14 Maret 2026.

Ia menjelaskan, tindakan cuci darah atau hemodialisis ternyata menghasilkan limbah yang cukup besar setiap tahunnya. Limbah tersebut berasal dari plastik, selang infus, hingga berbagai peralatan medis sekali pakai yang digunakan selama proses dialisis.

Menurutnya, satu pasien yang menjalani cuci darah dapat menghasilkan puluhan kilogram limbah medis plastik setiap tahun. Selain itu, proses dialisis juga membutuhkan penggunaan air dan energi listrik dalam jumlah besar.

“Dalam satu kali proses dialisis selama empat sampai lima jam bisa menghabiskan sekitar 200 hingga 250 liter air. Jika dilakukan dua kali seminggu, tentu jumlahnya sangat besar,” katanya.

Ia menambahkan, selain limbah medis dan penggunaan air, proses dialisis juga berkontribusi terhadap emisi karbon dari penggunaan energi. Karena itu, konsep green nefrologi mendorong rumah sakit untuk mulai mengelola penggunaan air, energi, serta limbah medis secara lebih efisien.

“Rumah sakit bisa mulai dari strategi konservasi air, penggunaan mesin hemat energi, hingga memanfaatkan teknologi daur ulang air pada mesin dialisis,” jelasnya.

Selain dari sisi fasilitas kesehatan, upaya menjaga keberlanjutan layanan ginjal juga dapat dilakukan melalui pencegahan penyakit ginjal. Menurut Prof. Maimun, pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi kebutuhan tindakan cuci darah di masa depan.

“Yang paling penting adalah mencegah supaya masyarakat tidak sampai mengalami gagal ginjal. Kalau tidak sakit, tentu tidak perlu cuci darah dan limbah medis juga bisa berkurang,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa penyakit ginjal kronis seringkali dipicu oleh penyakit lain seperti diabetes dan hipertensi. Karena itu, pengendalian gula darah dan tekanan darah menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan ginjal.

Menurutnya, pola hidup sehat seperti mengontrol konsumsi gula, menjaga tekanan darah, serta rutin memeriksa kesehatan sangat penting untuk mencegah kerusakan ginjal. Edukasi kepada masyarakat juga perlu terus dilakukan agar kesadaran menjaga kesehatan ginjal semakin meningkat.

“Kalau masyarakat bisa mengontrol penyakit dasar seperti diabetes dan hipertensi, maka risiko gagal ginjal bisa ditekan. Itu juga bagian dari upaya menjaga kesehatan sekaligus menjaga lingkungan,” kata Prof. Maimun.

Melalui pendekatan green nefrologi, tenaga kesehatan berharap pelayanan medis di bidang ginjal dapat berjalan lebih berkelanjutan. Selain meningkatkan kualitas hidup pasien, pendekatan ini juga diharapkan mampu mengurangi dampak lingkungan dari layanan kesehatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....