Pendidikan Inklusif Butuh Deteksi sejak Dini

  • 17 Feb 2026 21:04 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Pendidikan inklusif dinilai tidak dapat dipisahkan dari upaya deteksi dini kebutuhan khusus pada anak sejak usia sekolah. Langkah ini penting agar anak mendapatkan penanganan dan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

Koordinator Terapi Bintang Kecil, Marsela Zein, S.Psi, mengatakan asesmen menjadi tahap awal dalam mendukung pendidikan inklusif di sekolah umum. Menurutnya, asesmen membantu mengidentifikasi hambatan anak sebelum menyusun program pembelajaran tambahan.

“Biasanya kami melakukan asesmen dulu untuk melihat kebutuhan anak, setelah itu baru kami susun program tambahan yang kemudian dikolaborasikan dengan guru di sekolah,” kata Marsela Zein dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi di RRI Banda Aceh pada Minggu 15 Februari 2026.

Ia menjelaskan, asesmen lanjutan dilakukan pada anak-anak yang sudah bersekolah, sementara deteksi dini umumnya ditujukan bagi anak sebelum masuk sekolah. Dengan langkah ini, anak tidak salah penanganan dan dapat diarahkan apakah perlu terapi terlebih dahulu atau bisa langsung bersekolah sambil menjalani terapi.

Marsela menuturkan, tanda-tanda kebutuhan khusus pada anak di sekolah dapat terlihat dari kesulitan fokus, minim kontak mata, keterlambatan verbal, hingga respons belajar yang sangat singkat. Kondisi tersebut sering kali baru disadari ketika anak mulai mengikuti pembelajaran formal.

“Banyak anak yang fokusnya hanya satu sampai dua menit, atau sulit merespons instruksi. Dari situ biasanya sudah terlihat apakah anak butuh asesmen lanjutan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keterlambatan perkembangan bukan berarti anak tidak mampu, melainkan sering kali belum mendapatkan penanganan yang tepat. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang jika didukung dengan metode yang sesuai.

Marsela juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara terapis, guru, dan orang tua dalam pendidikan inklusif. Ia menilai perkembangan anak akan lebih optimal jika ketiga pihak berjalan searah dan saling mendukung.

“Terapi hanya satu sampai dua jam, sementara guru dan orang tua yang paling lama bersama anak. Jadi kolaborasi ini kunci utama,” jelasnya.

Terkait dukungan pemerintah, Marsela menyebutkan bahwa saat ini semakin banyak sekolah di Banda Aceh yang mulai menerapkan sistem inklusi. Pelatihan guru pun mulai digencarkan agar mampu menangani anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler.

Ia berharap pendidikan inklusif ke depan tidak hanya menjadi kebijakan tertulis, tetapi benar-benar diterapkan melalui program dan tenaga pendidik yang kompeten. Dengan begitu, anak berkebutuhan khusus dapat tumbuh lebih percaya diri dan mandiri di lingkungan sekolah.

“Deteksi dini itu bukan untuk menghakimi, tapi bentuk kepedulian agar anak mendapatkan hak belajarnya secara optimal,” tutup Marsela Zein.




google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....