Melindungi Hutan terbukti Lebih Hemat Biaya dari pada Menanam Ulang
- 21 Sep 2026 17:34 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Sebuah studi besar yang dipimpin oleh Leonardo S. Miranda dari Lancaster University bersama tim peneliti internasional baru saja mengungkap fakta mengejutkan tentang cara terbaik menyelamatkan hutan tropis. Penelitian ini terbit dalam jurnal Science edisi 17 September 2026 (Vol. 393, No. 6817), setelah melalui proses review panjang sejak diajukan pada 8 April 2025 dan akhirnya diterima redaksi pada 28 Juli 2026.
Studi ini melibatkan puluhan ilmuwan dari Inggris, Brasil, Australia, dan negara lain, termasuk James R. Thomson, Joice Ferreira, Toby A. Gardner, Erika Berenguer, dan Jos Barlow. Nama-nama ini berasal dari lembaga ternama seperti Lancaster University, Cornell Lab of Ornithology, hingga EMBRAPA Amazônia Oriental di Brasil.
Selama ini, dunia sibuk menggalakkan program penanaman kembali hutan atau restorasi sebagai solusi andalan krisis iklim. Namun studi ini menunjukkan bahwa strategi tersebut justru paling boros biaya dan paling kecil manfaatnya dibanding dua cara lain yang selama ini kurang dilirik.
Tim peneliti menghabiskan waktu bertahun-tahun mengamati dua kawasan raksasa di Amazon Brasil, yakni Santarém dan Paragominas. Kedua wilayah ini dipilih karena mewakili "garda depan" konflik lahan, tempat hutan tua, hutan bekas tebangan, ladang, dan perkebunan besar saling berdempetan.
Dengan memakai data satelit beresolusi tinggi serta model kecerdasan buatan yang dilatih dari 381 titik pengamatan lapangan, mereka membandingkan tiga jurus penyelamatan hutan. Ketiganya adalah mencegah penebangan hutan sama sekali, mencegah gangguan seperti kebakaran dan pembalakan liar, serta menanam kembali lahan yang telah gundul.
Hasilnya cukup mengejutkan banyak pihak yang selama ini mengandalkan restorasi sebagai jurus utama. Jika dilakukan sendirian, restorasi hanya mampu menutup 6,5 persen kerugian keanekaragaman hayati dan 14,7 persen kerugian karbon yang sudah terlanjur hilang.
Sebaliknya, mencegah gangguan hutan seperti kebakaran dan pembalakan liar justru menjadi jawara dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati. Strategi ini mampu menahan hingga 68,5 persen potensi kerugian satwa dan tumbuhan, jauh mengungguli dua strategi lainnya.
Sementara itu, untuk urusan menyimpan karbon dan menahan laju perubahan iklim, mencegah deforestasi total masih menjadi juara. Cara ini berhasil menyelamatkan 60,8 persen karbon yang seharusnya lenyap akibat penebangan hutan.
Menariknya lagi, tim peneliti menemukan bahwa dampak positif baru benar-benar terasa ketika berbagai strategi digabungkan bersamaan. Ketika mencegah deforestasi dipadukan dengan mencegah gangguan hutan, keanekaragaman hayati bahkan naik 12 persen dan karbon naik 18 persen di atas kondisi awal tahun 2010.
Kabar baiknya, menggabungkan ketiga strategi sekaligus bisa mendongkrak keanekaragaman hayati hingga 22 persen dan karbon hingga 42 persen. Angka ini membuktikan adanya efek sinergi, di mana gabungan strategi memberi hasil lebih besar ketimbang dijumlahkan satu per satu.
Dari sisi kantong, hasil riset ini juga menohok anggapan umum. Setelah memperhitungkan biaya lahan dan operasional, restorasi tetap kalah efisien dibanding dua strategi pencegahan lainnya, bahkan ketika biaya restorasi dipotong hingga 95 persen dalam simulasi.
Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa restorasi bukan berarti sia-sia sepenuhnya. Pada lahan-lahan dengan tutupan hutan yang sudah sangat minim, restorasi justru menjadi pilihan paling masuk akal karena strategi lain tak lagi banyak berguna di sana.
Temuan ini memberi pesan penting bagi para pembuat kebijakan lingkungan di seluruh dunia, tidak hanya di Brasil. Mencegah kerusakan sejak awal, baik lewat larangan tebang maupun pengendalian kebakaran dan pembalakan liar, terbukti jauh lebih murah dan efektif daripada memperbaiki kerusakan yang sudah terlanjur terjadi.
Tantangan besar lainnya justru datang dari luar cakupan studi ini, yakni eksploitasi tambang dan ekspansi tanaman monokultur yang terus menggerus lahan hutan tropis di berbagai belahan dunia. Kedua aktivitas tersebut kerap mengubah hutan alami menjadi lahan tandus atau kebun sejenis dalam skala luas, sehingga upaya pencegahan deforestasi dan gangguan hutan yang terbukti hemat biaya ini perlu dibarengi dengan pengawasan ketat terhadap izin tambang dan perluasan perkebunan skala besar agar manfaatnya tidak sia-sia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....