Manuskrip Al-Qur’an Berusia 180 Tahun dari Aceh Dipresentasikan di Malaysia
- 27 Agt 2026 16:11 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Selangor - Manuskrip Al-Qur’an yang berusia 180 tahun dari Aceh, mulai didigitalisasi untuk menjaga pengetahuan Islam yang tersimpan di dalamnya. Manuskrip tersebut merupakan peninggalan Teungku Chik Lampaloh, ulama Aceh bernama Syekh Abdurrahman Lampaloh. Selain memuat teks Al-Qur’an, manuskrip tulisan tangan itu juga berisi berbagai catatan yang merekam pengetahuan dan tradisi keilmuan Islam pada masa itu. Upaya digitalisasi manuskrip tersebut menjadi bagian dari penelitian Nurrahmi, mahasiswa Program Doktor Studi Islam, Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.
Penelitian berjudul From Manuscript to Digital Heritage: Preserving Nusantara Islamic Knowledge through the Digitalization of the Teungku Chik Lampaloh Manuscript (The Descendants Effort in Safeguarding Ancestor Master Piece), dipresentasikan dalam 10th International Library and Information Science Society Conference (I-LISS) 2026 di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia, pada 26 hingga 28 Agustus 2026. Penelitian tersebut dilakukan bersama Prof. Mujiburrahman, Prof. Syamsul Rijal, Zubaidah dan Fathin Zhafira Fauzi.
Nurrahmi mengatakan digitalisasi dilakukan karena kondisi fisik manuskrip mulai mengalami kerusakan. Sejumlah halaman telah rapuh, sementara tulisan pada beberapa bagian mulai memudar sehingga sulit dibaca.
“Digitalisasi bukan hanya mengubah manuskrip menjadi bentuk digital, tetapi juga menjadi upaya menjaga pengetahuan yang terkandung di dalamnya agar tetap dapat dipelajari dan diwariskan. ondisi fisik menjadi salah satu tantangan dalam pelestarian manuskrip. Penggunaan tinta berbasis besi yang lazim digunakan pada masa lalu, misalnya berpotensi menimbulkan efek korosif terhadap kertas dalam jangka Panjang,” jelas Nurrahmi pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Adapun digitalisasi diharapkan dapat mengurangi kebutuhan untuk menangani manuskrip secara langsung. Dengan demikian, informasi yang tersimpan dalam naskah tetap dapat diakses dan dipelajari tanpa harus berulang kali membuka serta memegang dokumen aslinya. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Proses digitalisasi dilakukan melalui tiga tahapan, yakni pra-digitalisasi, digitalisasi, dan pasca-digitalisasi.
Pada tahap pra-digitalisasi, peneliti melakukan pemilihan manuskrip, verifikasi hak cipta dan kepemilikan, pencatatan data bibliografi, serta persiapan peralatan. Tahap digitalisasi mencakup pengambilan gambar, pemeriksaan kualitas citra, pembuatan file master, pengeditan metadata, dan konversi file. Selanjutnya, hasil digitalisasi dikemas dan didokumentasikan pada tahap pasca-digitalisasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan tersebut dapat membantu mengurangi risiko kerusakan pada bagian-bagian paratekstual manuskrip. Proses tersebut juga menghasilkan surrogate digital berkualitas tinggi untuk mempertahankan informasi manuskrip dalam jangka panjang.
Penelitian itu menawarkan kerangka kerja yang menggabungkan aspek pelestarian, pengelolaan metadata, dan penyebaran pengetahuan. Kerangka tersebut dinilai dapat diterapkan oleh perpustakaan, arsip, museum, maupun lembaga pengelola warisan budaya. Manuskrip Teungku Chik Lampaloh sebelumnya juga menjadi objek kajian tim peneliti UIN Ar-Raniry dan Al-Azhar University. Kajian tersebut menelusuri bagian parateks manuskrip, seperti catatan pinggir, kolofon, anotasi, dan keterangan lainnya. Bagian-bagian tersebut dapat memberikan informasi mengenai praktik keilmuan, transmisi pengetahuan, jaringan ulama, hingga kondisi sosial-keagamaan ketika manuskrip tersebut ditulis.
Dalam konferensi I-LISS 2026, Nurrahmi menampilkan kondisi dan isi manuskrip melalui sebuah video. Dokumentasi tersebut memuat penjelasan Masykur SHum, Direktur Pedir Museum Aceh, serta Abdullah Maulani MHum dari DREAMSEA. Presentasi tersebut juga memperlihatkan prototipe rumah digital yang dirancang untuk menyimpan lembaran manuskrip yang telah didigitalisasi.
Masykur terlibat dalam dokumentasi dan pengenalan manuskrip kepada publik melalui Pedir Museum. Sementara itu, Abdullah Maulani memberikan perspektif berdasarkan pengalaman dokumentasi manuskrip melalui DREAMSEA. Sekretaris Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Dr Zubaidah MEd, turut mendampingi Nurrahmi dalam konferensi tersebut.
Presentasi penelitian itu mendapat apresiasi dari President I-LISS, Prof Namtip Wipawin, serta perhatian peserta konferensi. Selain Nurrahmi, dua peneliti UIN Ar-Raniry, yakni Nazaruddin dan Mukhtaruddin, juga menjadi presenter dalam forum tersebut. Nazaruddin mempresentasikan penelitian berjudul “From HI to AI: Repositioning Libraries in the Evolution of Human and Artificial Intelligence.” Penelitian tersebut membahas perkembangan sistem temu kembali informasi (information retrieval) dari era yang bertumpu pada kecerdasan manusia (Human Intelligence/HI) menuju era kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....