Penggunaan AI Berlebihan Hambat Cara Berpikir Kritis dan Ide

  • 18 Agt 2026 08:04 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Penggunaan kecerdasan buatan atau AI secara berlebihan dalam menyelesaikan tugas sekolah dinilai dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis anak. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena kemampuan berpikir kritis mulai berkembang sejak usia sekitar 12 tahun.

Psikolog Silvia Eva Juarni, S.Psi., M.Psi., Psikolog mengatakan anak usia 12 tahun atau setingkat SMP sudah memasuki tahap operasional formal yang memungkinkan mereka berpikir logis, abstrak, dan menganalisis persoalan secara lebih kompleks. “Jadi, kemampuan berpikir kritis sebenarnya sudah mulai dari usia 12 tahun,” ujarnya dalam perbincangan ASOKAYA RRI Banda Aceh, Sabtu 15 Agustus 2026.

Menurut Silvia, ketergantungan pada AI untuk mengerjakan pekerjaan rumah membuat kemampuan kognitif anak kurang terlatih dalam memecahkan masalah. “Tidak dilatih, maka kognitif tadi tidak pernah diasah untuk menyelesaikan atau memecahkan masalah secara kritis,” jelasnya.

Ia mengungkapkan kemampuan kognitif perlu terus distimulasi agar koneksi saraf berkembang dan mendukung proses berpikir anak pada tahap berikutnya. “Kalau tidak distimulasi, tidak ada kemampuan dia, tidak pernah dia gunakan kemampuannya untuk memecahkan masalah, otomatis dia akan kesulitan nanti di tahap selanjutnya,” tambah Silvia.

Karena itu ia katakan, penggunaan AI pada anak perlu diarahkan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir. Pendampingan orang tua dan guru diperlukan agar teknologi tetap mendukung pembelajaran tanpa mengurangi kesempatan anak untuk berlatih menganalisis dan memecahkan masalah secara mandiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....