Rumah Baca Nuri Gelar Lokakarya Literasi 2026 di Pidie
- 12 Agt 2026 18:12 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, PIDIE — Rumah Baca Nuri menggelar Lokakarya Literasi 2026 sebagai bagian dari Program Bantuan Pemerintah Bidang Kebahasaan dan Kesastraan: Fasilitasi bagi Komunitas Literasi Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Oproom Kantor Bupati Pidie, Sabtu 8 Agustus 2026, dan dibuka Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, S.S., M.Hum.
Dalam sambutannya, Muhammad Irsan mengapresiasi keberadaan komunitas literasi di Kabupaten Pidie.
"Ini menjadi sebuah kebanggaan karena dari 110 komunitas penerima bantuan pemerintah di seluruh Indonesia, Aceh diwakili oleh dua komunitas dan keduanya berasal dari Kabupaten Pidie," ujar Muhammad Irsan.
Ia berharap dukungan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kegiatan literasi dan kebahasaan di tengah masyarakat.
"Komunitas literasi memiliki peran penting dalam membangun budaya membaca, menulis, sekaligus menjaga bahasa dan sastra di tengah masyarakat," katanya.
Pembukaan kegiatan turut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pidie Nurhanisah, S.IP., M.M., Kasubbag Balai Bahasa Provinsi Aceh Dr. Baun Thoib Soaloon Siregar, Koordinator Tim Kerja Literasi Balai Bahasa Provinsi Aceh Syarifah Zuriati, Keuchik Balee Rastong Marzuki, serta Kabid FOSDM PW Forum TBM Aceh sekaligus narasumber Lokakarya Bertutur, Siti Nurhidayah, S.Pd., M.S.s.
Pada kegiatan tersebut, Balai Bahasa Provinsi Aceh menyerahkan secara simbolis masing-masing 20 eksemplar buku dari 10 judul kepada Rumah Baca Nuri dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pidie.
Pendiri sekaligus Ketua Rumah Baca Nuri, Nurul Fajri, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menjawab tantangan literasi di tengah masyarakat, terutama penggunaan gawai pada anak usia dini.
"Kita melihat penggunaan gawai pada anak semakin masif, sementara literasi digital yang sehat belum sepenuhnya tumbuh. Karena itu, kita ingin menghadirkan ruang yang membuat anak kembali dekat dengan buku, bahasa, cerita, dan lingkungan sekitarnya," kata Nurul Fajri.

Rumah Baca Nuri yang dirintis sejak 2021 di Gampong Balee Rastong mengusung filosofi "Butuh orang sekampung untuk mendidik seorang anak" dan jargon "Anakmu adalah Anakku".
"Semangat kami sederhana, anak-anak di sekitar kita adalah tanggung jawab bersama. Melalui Rumah Baca Nuri, kita ingin membangun budaya membaca, menulis, dan berdaya guna," ujarnya saat di konfirmasi Selasa 11 Agustus 2026.
Lokakarya Literasi 2026 terdiri atas tiga rangkaian kegiatan dengan total sasaran 170 peserta.
Pertama, Lokakarya Bertutur atau storytelling bertema "Cerita Kearifan Lokal, Kuatkan Karakter Bangsa". Kegiatan ini menyasar 60 mahasiswa dan siswa SMA atau sederajat se-Kabupaten Pidie.
Kedua, Lokakarya Membaca Nyaring atau read aloud bertema "Semai Cinta Sejak Dini, Tumbuhkan Suka Baca Selamanya". Kegiatan ini diikuti 60 orang tua, guru PAUD dan SD, serta guru TPA.
Ketiga, Lokakarya Pengelolaan Komunitas Literasi bertema "Peningkatan Manajemen Kegiatan dan Publikasi Kreatif Komunitas". Kegiatan menyasar 50 pengelola TBM, rumah baca, perpustakaan gampong, dan komunitas literasi di Kabupaten Pidie.
Nurul Fajri menjelaskan, ketiga lokakarya tersebut dirancang tidak hanya memberikan materi, tetapi juga mendorong peserta melakukan praktik dan menyusun aksi lanjutan.
"Kita tidak ingin lokakarya berhenti pada kegiatan di ruangan. Ada praktik dan Rencana Tindak Lanjut yang harus dilakukan peserta setelah kegiatan," katanya.

Lokakarya Bertutur menjadi rangkaian pertama yang dilaksanakan setelah pembukaan. Kegiatan dipandu Siti Nurhidayah, S.Pd., M.S.s., dengan menggabungkan materi dan praktik langsung.
Peserta mempelajari teknik public speaking, mulai dari olah vokal, intonasi, mimik wajah hingga gestur. Peserta juga membedah naskah kearifan lokal Pidie dan mengikuti simulasi kelompok melalui metode roleplay.
Siti Nurhidayah mengatakan kemampuan bertutur dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali kearifan lokal kepada generasi muda.
"Ketika anak-anak muda mampu menceritakan kembali kearifan lokal dengan cara yang menarik, mereka bukan hanya belajar berbicara, tetapi juga ikut menjaga cerita dan identitas daerahnya," ujar Siti Nurhidayah.
Sebagai keluaran kegiatan, peserta menyusun Story Action Sheet sebagai rencana tindak lanjut. Peserta diwajibkan mempraktikkan kegiatan bertutur kepada anak-anak di lingkungan sekitar, seperti TPA, sekolah dasar, maupun komunitas.
Dokumentasi praktik juga diunggah melalui akun Instagram pribadi peserta dengan menandai akun resmi Rumah Baca Nuri.
"Harapannya, setelah lokakarya ini peserta benar-benar bergerak. Mereka menjadi penutur yang membawa cerita kearifan lokal kepada anak-anak di lingkungannya," kata Nurul Fajri.
Melalui dukungan Balai Bahasa Provinsi Aceh dan masyarakat Pidie, Rumah Baca Nuri berharap program tersebut dapat memperkuat ekosistem literasi serta melahirkan generasi muda yang memiliki kecakapan berbahasa, berkarakter, dan peduli terhadap budaya daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....