Dosen UNISA Samalanga Lolos Uji Promosi Doktor
- 23 Jun 2026 20:01 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh : Dosen UNISA Samalanga, Bireun, Tgk Helmi Abu Bakar, berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor Program Studi Pendidikan Agama Islam di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dosen Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga tersebut mempertahankan disertasi berjudul Suluk dan Pendidikan Karakter: Studi Praktik Suluk Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga Aceh, Jumat 19 Juni 2026.
Sidang berlangsung cukup alot. Tim penguji mengajukan berbagai pertanyaan kritis terkait landasan teori, metodologi, temuan lapangan, kebaruan penelitian, hingga relevansi suluk bagi pendidikan karakter kontemporer.
Meski menghadapi pertanyaan yang beragam dan mendalam, alumni Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga itu mampu memberikan jawaban secara sistematis dan argumentatif. Jawaban yang disampaikan didasarkan pada data penelitian lapangan serta kerangka teori yang digunakan dalam disertasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suluk di Dayah MUDI bukan sekadar amaliah spiritual personal. Suluk merupakan proses pendidikan ruhani dan karakter yang memadukan amaliah fisik dan nonfisik secara terarah.
Amaliah fisik meliputi disiplin ibadah, penjagaan wudu, salat berjemaah, salat sunah, puasa, pengaturan makanan, pengendalian lisan, serta kepatuhan terhadap aturan. Sementara amaliah nonfisik mencakup penataan niat, istigfar, tobat, zikir, tawajuh, rabitah, muraqabah, muhasabah, pengendalian nafsu, dan pembinaan keikhlasan.
“Kedua dimensi tersebut saling berkaitan. Disiplin lahiriah memperkuat kesadaran batin, sedangkan latihan batin diharapkan tercermin dalam perilaku nyata,” kata Tgk Helmi dalam keterangannya yang diterima RRI Banda Aceh, Selasa 23 Juni 2026.
Mantan Ketua PC GP Ansor Pidie Jaya itu menjelaskan bahwa pelaksanaan suluk berlangsung secara bertahap, terstruktur, dan terlembaga. Proses tersebut melibatkan mursyid, khalifah, munafiz, pembina, serta lembaga pengelola yang mengatur pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi.
Salah satu kebaruan penting dalam disertasi tersebut adalah ditemukannya pola suluk yang dikelola secara kelembagaan melalui Lembaga Pengembangan Dzikir dan Tarekat (LPDT) MUDI Samalanga.
Keberadaan LPDT menunjukkan bahwa suluk tidak hanya bertumpu pada relasi personal antara guru dan murid. Praktik tersebut telah memiliki sistem pengelolaan, pembagian peran, pedoman amaliah, jadwal, tata tertib, pengawasan, evaluasi, dan pembinaan yang berkelanjutan.
Menurut jurnalis NU Online perwakilan Aceh tersebut, kelembagaan menjadi pembeda penting dalam memahami praktik suluk di Dayah MUDI. LPDT berperan mengoordinasikan pelaksanaan suluk, menata peran mursyid, khalifah, munafiz, dan pembina, serta memastikan proses pembinaan berjalan secara sistematis.
“Keberadaan LPDT memperlihatkan bahwa suluk di Dayah MUDI telah berkembang menjadi sistem pendidikan ruhani yang terlembaga. Ini menjadi salah satu temuan penting karena suluk tidak lagi dipahami hanya sebagai amaliah individual, tetapi sebagai proses pendidikan yang dikelola secara organisatoris,” ujar kolumnis yang aktif membumikan semangat literasi di lingkungan dayah tersebut.
Dalam analisisnya, dosen UNISAI Samalanga itu mendialogkan pendidikan tasawuf al-Ghazali dengan teori pendidikan karakter Thomas Lickona serta teori kecerdasan emosional Daniel Goleman.Dialog teoritis tersebut menunjukkan bahwa suluk tidak hanya mengembangkan pengetahuan moral, tetapi juga penghayatan moral, tindakan moral, kesadaran diri, pengendalian diri, dan pembiasaan akhlak.
Praktik suluk ditemukan berimplikasi pada kedisiplinan beribadah, kesabaran, keikhlasan, pengendalian emosi, penjagaan lisan, ketenangan batin, ta‘zhim kepada guru, kepatuhan terhadap aturan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moral.
Kendati demikian, penelitian alumnus Dayah MUDI Samalanga tersebut tidak menyimpulkan bahwa seluruh salik mengalami perubahan secara seragam. Perubahan karakter berlangsung secara gradual dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Sebagian salik mampu mempertahankan perubahan positif setelah mengikuti suluk. Namun, sebagian lainnya mengalami penurunan konsistensi ketika kembali kepada rutinitas sehari-hari di luar lingkungan suluk.
Menurut Tgk Helmi, transformasi karakter membutuhkan pembiasaan, pengawasan, dan pembinaan yang berkelanjutan. Lingkungan setelah suluk juga sangat menentukan kemampuan salik mempertahankan kebiasaan positif yang telah dibangun.
“Perubahan karakter tidak cukup hanya melalui pengalaman spiritual yang berlangsung dalam waktu tertentu. Nilai yang diperoleh selama suluk perlu terus dijaga melalui wirid, muhasabah, pengajian, pendampingan, dan pengawasan,” ujar sosok Nahdliyin yang aktif menulis tersebut.
Kebaruan utama disertasi mantan Ketua Ansor Pidie Jaya itu terletak pada rekonstruksi suluk sebagai sistem pendidikan karakter sufistik berbasis tradisi dayah. Sistem tersebut tidak hanya memiliki tujuan, tahapan, materi, metode, pembimbing, aturan, lingkungan, dan evaluasi, tetapi juga ditopang oleh struktur kelembagaan melalui LPDT MUDI Samalanga.Selama ini, suluk lebih banyak dikaji sebagai praktik tarekat, zikir, khalwat, atau pengalaman kerohanian individual.
Penelitian Tgk Helmi menunjukkan bahwa suluk di Dayah MUDI telah berkembang dalam bentuk kelembagaan yang mengatur proses pembinaan secara lebih terarah, terstruktur, dan berkelanjutan.
Dosen yang juga aktif menulis berita, opini, dan berbagai rubrik keislaman itu memandang suluk sebagai laboratorium pendidikan karakter yang hidup dalam tradisi dayah Aceh.Suluk tidak hanya mengajarkan pengetahuan tentang kebaikan, tetapi juga melatih salik untuk menghayati, membiasakan, dan mewujudkan nilai kebaikan dalam perilaku nyata.
Penelitian jurnalis NU Online perwakilan Aceh tersebut merekomendasikan agar nilai-nilai pendidikan dalam suluk terus dirawat tanpa mencabutnya dari akar tasawuf, adab, sanad keilmuan, dan tradisi dayah.
Pengelola suluk juga direkomendasikan menyempurnakan pedoman pelaksanaan dan evaluasi, terutama yang berkaitan dengan perubahan sikap peserta selama dan setelah mengikuti suluk.Selain itu, diperlukan pembinaan pascasuluk melalui wirid, muhasabah, pendampingan, pengajian, dan pengawasan agar transformasi karakter tidak berhenti sebagai pengalaman spiritual sesaat.
Ketua PWNU Aceh, Tgk H Faisal Ali atau akrab disapa Abu Sibreh, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas keberhasilan Tgk Helmi Abu Bakar menyelesaikan studi doktoralnya.
Menurutnya, capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga dan UNISAI Samalanga sebagai lembaga tempat Tgk Helmi mengabdi, tetapi juga bagi warga dayah dan Nahdlatul Ulama di Aceh.
“Kami sangat mengapresiasi dan bangga atas keberhasilan Tgk Helmi Abu Bakar. Beliau merupakan salah seorang Nahdliyin yang lahir dari rahim dayah sangat aktif menulis dan konsisten membumikan semangat literasi di kalangan masyarakat Aceh juga dayah serta warga Nahdliyin di Aceh,” katanya.
Abu Sibreh yang juga Ketua MPU Aceh menilai aktivitas jurnalistik dan kepenulisan yang dijalankan Tgk Helmi selama ini telah membantu mendokumentasikan berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan tradisi keilmuan dayah agar dapat dibaca masyarakat secara lebih luas.
Sebagai jurnalis NU Online perwakilan Aceh, Tgk Helmi juga dinilai konsisten memperkenalkan dinamika keislaman, aktivitas ulama, pendidikan dayah, gerakan Nahdliyin, dan berbagai persoalan masyarakat Aceh melalui pemberitaan serta tulisan kolom.
“Semangat literasi seperti ini perlu terus dikembangkan. Tradisi dayah memiliki kekayaan ilmu, pemikiran, dan pengalaman yang sangat besar. Kekayaan tersebut perlu ditulis, diteliti, dan disebarluaskan agar menjadi warisan keilmuan bagi generasi berikutnya,” ujarnya.
Abu Sibreh berharap gelar doktor yang diraih semakin memperkuat kontribusi Tgk Helmi dalam bidang pendidikan, jurnalistik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan literasi di lingkungan dayah dan Nahdlatul Ulama.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh semakin memperkuat pengabdian beliau kepada agama, dayah, masyarakat, dan Nahdlatul Ulama. Capaian ini juga semoga menjadi motivasi bagi kader-kader muda NU untuk terus belajar, menulis, dan menghasilkan karya yang bermanfaat,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....