Krisis Pendanaan Hambat Percepatan Energi Bersih ASEAN

  • 10 Jun 2026 16:33 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Upaya negara-negara ASEAN untuk mempercepat transisi energi menghadapi tantangan besar yang tidak hanya berasal dari aspek teknologi dan kebijakan. Salah satu hambatan paling krusial adalah kesenjangan pendanaan yang masih lebar antara kebutuhan investasi dan dana yang tersedia untuk pengembangan energi bersih.

Seiring pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kebutuhan listrik, Asia Tenggara membutuhkan investasi energi dalam jumlah sangat besar untuk mencapai target iklim dan energi terbarukan. Namun, laporan IESR menunjukkan bahwa investasi energi tahunan ASEAN pada 2021 hanya sekitar 30 miliar dolar AS, jauh di bawah kebutuhan yang diperkirakan mencapai 150 hingga 200 miliar dolar AS per tahun hingga 2030.

Kesenjangan pendanaan tersebut membuat banyak proyek energi terbarukan berjalan lebih lambat dari yang diharapkan. Padahal, kawasan ini memiliki potensi besar untuk mengembangkan tenaga surya, angin, air, dan panas bumi yang dapat menjadi fondasi sistem energi rendah karbon di masa depan.

Tantangan pendanaan semakin kompleks karena sebagian besar negara ASEAN masih harus menyeimbangkan kebutuhan pembangunan ekonomi dengan agenda transisi energi. Dalam banyak kasus, pemerintah lebih memilih mempertahankan infrastruktur energi yang sudah ada dibandingkan mengalokasikan investasi besar untuk teknologi baru yang membutuhkan biaya awal tinggi.

Situasi global juga turut memengaruhi ketersediaan sumber pembiayaan energi bersih. Berkurangnya keterlibatan Amerika Serikat dalam sejumlah program iklim dan energi internasional membuat ASEAN harus mencari alternatif pendanaan baru untuk menjaga keberlanjutan proyek-proyek transisi energi yang sedang berjalan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, ASEAN didorong memperkuat kerja sama dengan lembaga keuangan regional, negara mitra strategis, serta sektor swasta. Pendekatan ini dinilai penting agar kawasan tidak terlalu bergantung pada satu sumber pendanaan dan mampu membangun ekosistem investasi energi bersih yang lebih tangguh.

Menurut kajian Institute for Essential Services Reform (IESR), keberhasilan transisi energi ASEAN sangat bergantung pada kemampuan kawasan menutup kesenjangan investasi yang ada saat ini. Tanpa dukungan pembiayaan yang memadai, target energi terbarukan dan pengurangan emisi yang telah ditetapkan berpotensi sulit tercapai sesuai jadwal yang direncanakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....