CIMSA FK USK Latih Mahasiswa Kedokteran Kuasai Bahasa Isyarat
- 23 Apr 2026 11:30 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Organisasi mahasiswa kedokteran CIMSA FK USK menghadirkan program pelatihan bahasa isyarat bagi mahasiswa kedokteran guna mendorong layanan kesehatan yang lebih inklusif bagi penyandang tunarungu. Hal tersebut disampaikan Kepala Divisi Kestari Love 2026A CIMSA FK USK, Eri Lusmiani, dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh Pro 2, Rabu 22 April 2026.
Eri menjelaskan, CIMSA merupakan organisasi yang mewadahi mahasiswa kedokteran untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi sebagai calon dokter. Organisasi ini terbagi dalam enam bidang atau standing committee yang memiliki fokus berbeda.
Menurutnya, program pelatihan bahasa isyarat ini merupakan kolaborasi dua bidang, yakni Standing Committee on Medical Education (SCOME) dan Standing Committee on Human Rights and Peace (SCORP).
“Tujuan dari program ini adalah melatih dokter-dokter masa depan agar memiliki kemampuan berbahasa isyarat sehingga pelayanan kesehatan bisa lebih inklusif bagi semua kalangan,” ujarnya.
Ia menilai, selama ini komunikasi antara pasien tunarungu dengan dokter masih sering melalui perantara keluarga. Padahal, komunikasi interpersonal idealnya dilakukan langsung antara dokter dan pasien.
“Harapannya nanti teman-teman tunarungu yang sakit bisa menyampaikan keluhannya sendiri tanpa harus melalui keluarga terlebih dahulu,” kata Eri.
Program bertajuk “Love 2026” ini merupakan pengembangan dari kegiatan sebelumnya bernama “Listen” yang hanya berupa kegiatan satu hari. Kini, program tersebut dirancang dalam bentuk community development agar manfaatnya lebih berkelanjutan.
Eri menyebutkan, program ini memiliki tiga intervensi utama dengan sasaran mahasiswa kedokteran. Peserta akan mengikuti pelatihan bahasa isyarat secara bertahap dan dievaluasi agar kemampuan yang diperoleh dapat digunakan dalam jangka panjang.
Sementara itu, Project Officer Love 2026 CIMSA FK USK, Zuhra Arifca, menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat dua pedoman bahasa isyarat yang umum digunakan, yakni Bisindo dan SIBI.
Menurut Zuhra, Bisindo atau Bahasa Isyarat Indonesia berkembang secara alami di komunitas tuli dan dapat berbeda antar daerah. Sedangkan SIBI atau Sistem Isyarat Bahasa Indonesia merupakan bentuk bahasa isyarat formal yang digunakan di lingkungan pendidikan atau situasi resmi.
“Kalau Bisindo itu seperti bahasa daerah, bisa berbeda-beda sesuai wilayah. Sementara SIBI lebih formal dan menjadi pedoman bersama,” jelasnya.
Melalui program ini, CIMSA FK USK berharap mahasiswa kedokteran tidak hanya memiliki kompetensi medis, tetapi juga kemampuan komunikasi yang lebih inklusif sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....