Etika AI Melawan Ambisi Militer dalam Kasus Anthropic
- 16 Apr 2026 10:25 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Dunia teknologi diguncang oleh perselisihan antara perusahaan AI Anthropic dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon). Ketegangan mencapai puncaknya pada tahun 2026 setelah peluncuran model terbaru bernama Claude Mythos.
Claude Mythos dikembangkan dalam proyek rahasia berkode Project Glasswing yang dirancang untuk memperkuat sistem pertahanan siber. Namun, kecerdasan model ini justru melampaui prediksi awal dengan kemampuan menemukan ribuan celah keamanan dalam hitungan detik.
Anthropic memutuskan untuk membatasi akses terhadap teknologi ini karena khawatir akan disalahgunakan sebagai senjata siber otomatis yang berbahaya. CEO Anthropic, Dario Amodei, dengan tegas menolak permintaan militer untuk menghapus batasan etis pada sistem tersebut.
Pemerintah AS melalui Menteri Pertahanan Pete Hegseth merespons penolakan tersebut dengan langkah yang sangat drastis. Pada Februari 2026, Pentagon melabeli Anthropic sebagai "risiko rantai pasok" yang biasanya hanya disematkan pada perusahaan asing berbahaya.
Pelabelan ini mengakibatkan pemutusan kontrak senilai jutaan dolar dan larangan penggunaan teknologi Anthropic di seluruh lembaga federal. Pentagon menuduh perusahaan tersebut menghambat keamanan nasional demi agenda etika yang mereka sebut sebagai "Woke AI".
Di sisi lain, Anthropic membalas dengan gugatan hukum karena merasa hak bicaranya ditekan oleh otoritas militer. Mereka bersikeras mempertahankan "garis merah" yang melarang AI digunakan untuk pengawasan massal maupun senjata mematikan.
Konflik ini kini menjadi pusat perhatian global mengenai siapa yang sebenarnya berhak mengendalikan teknologi paling kuat di bumi. Publik menanti apakah inovasi AI akan terus dipandu oleh etika kemanusiaan atau justru tunduk pada ambisi militer.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....