Adopsi Kendaraan Listrik Tekan Beban APBN

  • 30 Mar 2026 14:41 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID - Jakarta: Percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dinilai menjadi langkah strategis untuk meredam tekanan lonjakan harga minyak global terhadap APBN. Upaya ini sekaligus dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.

Pengamat otomotif, Martinus Pasaribu mengatakan kenaikan harga minyak global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi secara signifikan. “Setiap kenaikan harga minyak global akan mendorong pembengkakan subsidi dan kompensasi energi. Ini berisiko mengurangi ruang fiskal untuk belanja produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan,” ujarnya di Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.

Ia menjelaskan sekitar 60–70 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi dari impor, sementara lifting minyak domestik terus menurun. Dalam asumsi makro APBN, kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel dapat menambah beban subsidi hingga Rp8–10 triliun, sehingga jika harga menembus 90–100 dolar AS per barel, subsidi energi berpotensi membengkak mendekati Rp300 triliun per tahun.

Menurutnya, kendaraan listrik menjadi solusi jangka panjang karena mampu menekan konsumsi BBM dan impor minyak. “Diperkirakan penggunaan 1 juta mobil listrik dapat menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM per tahun, sementara 5 juta motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter,” katanya. Ia menambahkan, pemerintah perlu mempercepat ekosistem kendaraan listrik melalui insentif, pembangunan infrastruktur pengisian daya, serta penguatan industri nasional guna menjaga ketahanan fiskal dan kedaulatan energi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....