LUDESC, Langkah Baru Deteksi Penyakit Paru

  • 30 Jan 2026 21:09 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Inovasi di bidang kesehatan terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Startup asal Aceh, LUDESC (Lung Disease Electronic Stethoscope), mengembangkan stetoskop digital yang terhubung dengan layanan telemedicine untuk membantu deteksi dini penyakit paru-paru.

Inovasi tersebut disampaikan Co-Founder sekaligus Chief Operating Officer (COO) LUDESC, Cut Nanda Nurbadriani, dalam KHUPIE SARENG Podcast Episode #23 RRI Banda Aceh.

Cut Nanda menjelaskan, pengembangan stetoskop digital dilatarbelakangi keterbatasan jumlah dokter spesialis paru serta risiko penularan penyakit melalui droplet saat pemeriksaan langsung.

“Kami melihat masih terbatasnya dokter paru, sementara pemeriksaan paru memiliki risiko penularan melalui droplet. Karena itu kami mengembangkan stetoskop digital agar pemeriksaan bisa dilakukan jarak jauh dan tetap aman,” ujar Cut Nanda.

Melalui perangkat tersebut, dokter dapat mendengarkan dan menganalisis suara paru-paru pasien dari lokasi berbeda. Data suara yang terekam kemudian dikirim melalui aplikasi telemedicine untuk memberikan gambaran awal kondisi pasien.

“Dokter bisa mengetahui, misalnya di bagian tertentu ada bunyi wheezing atau crackles, sehingga pasien bisa segera diarahkan untuk pemeriksaan lanjutan. Ini membantu deteksi lebih cepat penyakit paru-paru,” jelasnya.

Cut Nanda menyebutkan, LUDESC telah diuji coba di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala (USK). Uji coba dilakukan dengan pendampingan tenaga medis, mengingat pengembangan alat kesehatan membutuhkan masukan langsung dari dokter.

“Kami tidak mungkin membangun sendiri tanpa dokter. Karena itu uji coba pertama dilakukan di rumah sakit pendidikan USK,” katanya.

Saat ini, LUDESC masih dalam tahap pengembangan dan evaluasi. Teknologi yang awalnya menggunakan kabel kini telah ditingkatkan menjadi nirkabel berbasis Bluetooth untuk memudahkan penggunaan.

Selain itu, LUDESC juga mengembangkan model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu analisis suara paru-paru. Model AI tersebut diklaim memiliki tingkat akurasi hingga 99 persen berdasarkan data awal, namun masih memerlukan pengujian langsung pada pasien.

“Dari data, akurasi model AI kami sudah mencapai 99 persen. Tetapi pengujian langsung pada pasien tetap diperlukan untuk memastikan alat ini mampu merekam suara dengan baik dan menghasilkan deteksi dini yang akurat,” ungkapnya.

Cut Nanda menegaskan, hingga kini LUDESC belum dikomersialkan dan masih difokuskan untuk keperluan pendidikan serta pengembangan teknologi. Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat memperluas akses layanan kesehatan, khususnya untuk deteksi dini penyakit paru-paru secara aman dan efisien.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....