Mengenal Grasse: Ibu Kota Parfum Dunia Mitra Strategis Banda Aceh
- 24 Jun 2026 10:07 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Grasse Prancis - Nama Kota Grasse di Prancis mendadak menjadi perbincangan hangat di tanah air setelah Pemerintah Kota Banda Aceh resmi menjalin kerja sama internasional melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI). Langkah ini diambil untuk mematangkan ambisi Banda Aceh menjadi "Kota Parfum Indonesia".
Lantas, seperti apa profil Kota Grasse yang dikenal sebagai kiblat industri wewangian global ini?
Grasse adalah sebuah kota kecil yang terletak di kawasan perbukitan Riviera, Prancis Tenggara. Meskipun secara geografis tidak terlalu besar, kota ini memegang kendali atas sebagian besar pasokan aroma dan wewangian mewah global. Lebih dari sekadar tempat produksi, Grasse adalah ekosistem parfum terlengkap di dunia yang mencakup sejarah panjang, riset modern, hingga pusat pendidikan elit bagi para peracik parfum (the nose).
Sejarah Unik: Dari Kota Penyamakan Kulit Menjadi Pusat Wewangian
Mundur ke abad pertengahan, Grasse sebenarnya bukanlah kota yang harum. Kota ini dulunya merupakan pusat penyamakan kulit (tanning industrial). Dikarenakan proses penyamakan kulit menghasilkan bau menyengat yang tidak sedap, para perajin lokal pada abad ke-16 mulai berinovasi menciptakan sarung tangan kulit beraroma wangi untuk para bangsawan.
Inovasi tersebut ternyata meledak di pasaran, terutama setelah mendapat dukungan dari Ratu Catherine de Medici. Ketika industri penyamakan kulit mulai meredup akibat pajak yang tinggi, masyarakat Grasse sepenuhnya beralih ke industri distilasi wewangian dan budidaya tanaman aromatik.
Warisan Budaya UNESCO dan Ekosistem Industri
Kekuatan utama Grasse terletak pada mikro-klimatnya. Terletak di antara pegunungan dan laut, Grasse memiliki tanah subur yang sangat ideal untuk menumbuhkan bunga-bunga berkualitas tinggi seperti:
Melati Grasse (Jasmine de Grasse): Bahan baku ikonik pembuat parfum legendaris dunia.
Mawar Centifolia (May Rose): Mawar kelopak berlapis yang dipanen setahun sekali.
Lavender dan Sedap Malam: Menjadi komoditas utama pengisi kilang-kilang penyulingan lokal.
Begitu bernilainya tradisi ini, pada tahun 2018 UNESCO secara resmi menetapkan keahlian terkait parfum di Grasse (Keahlian terkait parfum di Pays de Grasse) sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Status ini mencakup tiga aspek: budidaya tanaman tanaman lokal, pengetahuan bahan baku beserta ekstraksinya, hingga seni merstrukturisasi parfum.
Peluang Emas untuk Minyak Nilam Banda Aceh
Koneksi antara Grasse dan Banda Aceh terjalin berkat kebutuhan industri wewangian akan bahan pengikat aroma (fixative). Di sinilah Minyak Nilam Aceh (Patchouli oil) mengambil peran krusial. Industri parfum Grasse sangat bergantung pada kualitas minyak nilam terbaik di dunia yang salah satunya dihasilkan oleh bumi Serambi Mekkah.
Melalui kemitraan yang telah disepakati, Banda Aceh tidak hanya akan memosisikan diri sebagai pemasok bahan baku mentah. Kolaborasi ini dirancang agar terjadi transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM lokal. Targetnya, Banda Aceh mampu mengadopsi standar ketat dan inovasi ala Grasse untuk mengolah tanaman aromatiknya secara mandiri, menciptakan produk akhir bernilai tinggi, sekaligus membuka lapangan kerja baru berbasis ekonomi kreatif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....