Apa imbas Bagi Ekonomi Dunia jika Selat Hormuz Ditutup

  • 12 Mar 2026 11:32 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketegangan geopolitik antara Iran dan AS-Israel memicu kekhawatiran akan kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Jika jalur pelayaran strategis tersebut ditutup, dunia diperkirakan menghadapi krisis energi global.

Dirangkum RRI dari berbagai sumber, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global dikirim melalui jalur tersebut. Penutupan selat itu berpotensi menghentikan sebagian besar aliran minyak dari kawasan Teluk ke pasar internasional.

Kondisi tersebut diperkirakan memicu lonjakan tajam harga minyak mentah dan gas alam cair (LNG). Kepanikan pasar serta terbatasnya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah juga dapat menyebabkan harga energi global meningkat drastis.

Selain itu, gangguan pada jalur pelayaran akan meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi kapal. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi juga mempengaruhi perdagangan global karena meningkatnya biaya impor dan ekspor.

Sejumlah negara di Asia yang bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk diperkirakan akan menghadapi tekanan besar. Gangguan pasokan LNG dapat berdampak signifikan pada kebutuhan energi negara-negara seperti India, Pakistan, dan Bangladesh.

Kenaikan harga energi global juga berpotensi memicu inflasi di berbagai negara. Biaya produksi industri diperkirakan meningkat, sementara rantai pasok global dapat terganggu akibat naiknya biaya transportasi dan energi.

Bagi Indonesia, dampak yang paling terasa adalah potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax dan Dexlite. Harga BBM jenis tersebut diperkirakan dapat meningkat sekitar 10 hingga 25 persen jika harga minyak dunia melonjak.

Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berpotensi meningkat. Nilai tukar mata uang Indonesia diperkirakan dapat melemah hingga menembus Rp17.000 per dolar Amerika Serikat jika gejolak pasar energi terus berlanjut.

Penutupan Selat Hormuz juga berisiko menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah kemungkinan harus meningkatkan subsidi energi guna menjaga stabilitas harga dalam negeri.

Di sisi lain, Indonesia juga memiliki keterbatasan cadangan minyak operasional yang diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 20 hari. Kondisi ini membuat stabilitas pasokan energi nasional sangat bergantung pada kelancaran distribusi energi global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....