Kementerian Agama Dorong Transformasi Maritime Silk Road Jadi Peace Road

  • 27 Agt 2026 16:46 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Agama mendorong warisan jalur maritim, yang selama berabad-abad menghubungkan nusantara dengan berbagai kawasan dunia, ditransformasikan menjadi jejaring ilmu, kebudayaan, dan perdamaian antarbangsa.

Pesan tersebut disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, saat mewakili Wakil Menteri Agama, Romo H. R. Muhammad Syafi'i, dalam Seminar Internasional bertema “Maritime Silk Road and Nusantara Islamic Civilisation: Connecting Minangkabau, Makassar, Malaysia, Singapore, China, Sri Lanka, South Africa and the Legacy of Syekh Yusuf Al-Makassari”, yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Rangkayo Minang (RMI) Indonesia, di Gedung Balai Kota Blok G DKI Jakarta, pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Menurut Muchlis, bagi bangsa Indonesia laut tidak pernah semata-mata menjadi pemisah. Laut justru menjadi penghubung antarmanusia dan peradaban. Jauh sebelum istilah globalisasi dikenal, samudra telah mempertemukan manusia, barang, bahasa, pengetahuan, agama, dan kebudayaan.

“Jika dahulu jalur laut membawa rempah-rempah dan barang perdagangan, kemudian membawa ilmu dan agama, maka pada abad ke-21 kita memiliki tugas baru, yaitu menjadikan jalur peradaban itu sebagai jalur perdamaian. Dari Maritime Silk Road menuju Maritime Peace Road. Jalur maritim yang menghubungkan Nusantara dengan Asia Selatan, Timur Tengah, Tiongkok hingga Afrika bukan hanya trade routes, tetapi juga routes of knowledge, routes of spirituality dan akhirnya routes of civilization,” katanya.

Muchlis mencontohkan perjalanan Ibnu Batutah, ulama dan pengembara asal Tangier, Maroko, yang pada abad ke-14 mencapai Samudra Pasai. Catatan perjalanannya menjadi salah satu kesaksian penting mengenai kehidupan sosial-keagamaan di Nusantara pada masa itu. Sejarah perkembangan Islam di Nusantara memperlihatkan karakter penting berupa perjumpaan sosial dan kultural. Para pedagang membawa komoditas, sementara para ulama membawa sesuatu yang bertahan jauh lebih lama: ilmu, nilai, akhlak, dan jaringan kemanusiaan.

Sejarah Islam Nusantara tidak dapat dipahami hanya dengan menggunakan batas-batas negara modern. Minangkabau, Makassar, Aceh, Banten, Jawa dan kawasan Melayu terhubung dengan pusat-pusat keilmuan di Makkah, Madinah, India, Sri Lanka, hingga Afrika melalui jaringan intelektual dan spiritual.

Syekh Yusuf al-Makassari menjadi salah satu representasi kuat dari jejaring tersebut. Ulama asal Sulawesi Selatan itu melakukan perjalanan intelektual dan spiritual melintasi berbagai pusat keilmuan Islam, berkiprah di Banten, kemudian mengalami pengasingan hingga Sri Lanka dan Afrika Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....