Sering Dipukuli Senior, Santri di Medan Kabur ke Aceh

  • 07 Mar 2025 21:21 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh: ZAT (14), seorang santri asal Kecamatan Bukit, Bener Meriah nekat kabur dari Pesantren Raudathul Hasanah di Medan, Sumatera Utara pada 28 Februari 2025 lalu. Kaburnya ZAT secara dramatis menggegerkan keluarga, hingga akhirnya santri tersebut ditemukan di Nagan Raya bersama pria bernama Samsul (46) yang merupakan bos odong-odong.

Kini ZAT telah kembali ke keluarga. Pertemuan ZAT dengan ayah-ibu serta adik-adik difasilitasi Polsek Kutaraja yang selama ini membantu mencari ZAT. "Alhamdulillah, hari ini kita pertemukan kembali mereka (sekeluarga)," ujar Kapolsek Kutaraja, AKP Bambang Junianto, Jumat (7/3/2025).

Pihaknya berharap kepada masyarakat agar lebih waspada dan lebih memperhatikan buah hatinya agar hal serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari.

"Selain itu kita imbau kepada tenaga pengajar untuk lebih melakukan pengawasan agar tak ada lagi perundungan di sekolah maupun pesantren," tegasnya.

Kronologis ZAT Kabur ke Banda Aceh

Kapolsek menjelaskan ZAT kabur dari ponpes lantaran tak kuat menahan perundungan yang dilakukan seniornya. Pada 28 Februari 2025, ia nekat kabur dan langsung pergi ke terminal bus.

Kepada pihak bus, saat itu ZAT mengaku hendak berangkat ke Banda Aceh usai kabur dari ponpes. Sempat terkejut dengan pengakuannya, pihak loket tetap mengantar ZAT dengan pengawasan ketat, karena ia masih di bawah umur.

"Pihak loket sempat nanya ke dia warga mana, kenapa gak pulang ke Bener Meriah aja? Tapi dia bilang takut ayahnya marah kalau tahu dia kabur. Dia ngaku di Banda Aceh ada keluarga, padahal tidak," ungkap Bambang.

Tiba di Terminal Bus Kota Banda Aceh, ZAT lalu menaiki becak ke Masjid Raya Baiturrahman. Di sana ia sempat bertemu dengan salah seorang teman yang juga merupakan warga Bener Meriah.

Kaburnya ZAT dari Medan ke Banda Aceh juga ikut diketahui temannya saat itu. Namun, ungkap Bambang, kedua orang tuanya belum mengetahui, meski ZAT sempat meminta uang kepada ibunya.

"Kepada temannya dia juga cerita kabur, tapi sudah disarankan untuk pulang dia gak mau, takut ayahnya marah katanya. Akhirnya minta dicarikan kerja," kata Bambang.

"Di waktu berbeda, saat itu dia juga sempat minta dikirimkan uang kepada ibunya, tapi posisinya saat itu ibunya belum tahu kalau dia udah kabur dan udah sampai di Banda Aceh, apalagi dia mondok kan gak pake hape," lanjutnya.

Informasi kaburnya ZAT dari Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah Medan diketahui oleh orang tuanya tiga hari kemudian, saat mengecek kabar sang anak.

"Di situlah mereka tahu, pengelola pesantren bilang kalau ZAT kabur sejak tiga hari lalu. Orang tuanya ke Medan untuk nyari. Di sisi lain, mereka yang mendapatkan nomor kontak saya dari salah seorang rekan, minta tolong untuk dicarikan di Banda Aceh," ucap Bambang.

"Kita sebagai anggota kepolisian yang bertugas untuk melayani masyarakat akhirnya berupaya mencari ZAT di Banda Aceh dengan beberapa tim yang kita bentuk," sebut Bambang.

Kabur ke Nagan Raya untuk Bekerja

Kemudian lanjut Bambang, teman ZAT telah mengenalkan ZAT kepada rekannya Samsul, seorang pengusaha odong-odong. Memang saat itu diketahui Samsul membutuhkan pekerja untuk mengelola usahanya.

Tanpa rasa curiga, Samsul kemudian mengajak ZAT ke Nagan Raya untuk bekerja, karena di sanalah Samsul hendak membuka cabang odong-odong miliknya.

"Saat di sana baru diketahui bahwa ZAT ini adalah anak yang dicari orang tuanya karena kabur dari pesantren. Dia tahu dari medsos, langsung dilaporkan ke orang tuanya dan berlanjut ke kita (petugas)," jelasnya.

Usai menerima informasi keberadaan ZAT yang memang telah diawasi secara ketat oleh Samsul, akhirnya petugas bersama orang tua ZAT pergi ke Nagan Raya.

"Di sana kita jemput dan kembali ke Banda Aceh untuk nantinya pulang bersama keluarga ke Bener Meriah," ucap mantan Kasi Humas Polresta Banda Aceh ini.

"Kita berterima kasih kepada Samsul yang sudah menjaga anaknya. Mereka (orang tua) juga ikhlas dengan kejadian ini, namun untuk perundungan nanti akan dilaporkan ke pihak ponpes," katanya.

Kerap Dibully Senior di Pesantren

Usai berhasil dipertemukan dengan keluarganya, Kapolsek Kutaraja, AKP Bambang Junianto juga menanyakan alasan korban kabur dari Pesantren Raudhatul Hasanah Medan tersebut.

Dari keterangan korban, ia mengaku bahwa dirinya kerap mengalami penindasan oleh senior di Ponpes tersebut. Tak kuat menahan bullyan dari seniornya, ia kemudian memutuskan kabur ke Banda Aceh menggunakan mobil travel.

"Dia takut dipukul lagi di pesantren oleh seniornya, makanya dia pilih kabur," kata Bambang.

Atas dasar tersebut pula ia menyerahkan hal tersebut ke pihak keluarga untuk melaporkan dengan bully ke pihak pesantren. "Sebab itu bukan wilkum kita. Tapi kita selalu siap untuk dimintai bantuan. Proses pencarian korban ini kita lakukan dengan penelusuran di Banda Aceh juga," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....