TM Fadhil Rizkiansyah, Rahasia Dibalik Keahlian Sang Juara I Cup Tester ASCC 2026

  • 29 Jun 2026 11:03 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Aroma kopi memenuhi ruangan Kafa Roastery saat para finalis barista beradu kemampuan pada babak puncak Aceh Specialty Coffee Competition (ASCC) 2026 di Banda Aceh, Minggu (28/6/2026). Selama dua hari penyelenggaraan, peserta tidak hanya diuji keterampilan menyeduh kopi, tetapi juga kemampuan mengenali karakter cita rasa melalui tiga kategori perlombaan: Espresso Bar, Manual Brew, dan Cup Tester.

Usai melalui serangkaian penilaian, dewan juri menetapkan Damar Nugraha sebagai juara pertama kategori Manual Brew, Teuku Khalis sebagai juara pertama Espresso Bar, dan TM Fadhil Rizkiansyah sebagai juara pertama kategori Cup Tester. RRI berkesempatan mewawancarai Fadhil, pemuda 26 tahun asal Bireuen yang berhasil mencuri perhatian lewat kepekaan indera pengecapnya.

T.M. Fadhil Rizkiansyah (dua dari kiri) foto bersama Teuku Khalis sebagai juara pertama Espresso Bar, Damar Nugraha (paling kanan) juara pertama Manual Brew, dan Muhammad Mulyawan (paling kiri), salah seorang juri sekaligus Founder Kafa Roastery. (Foto: RRI/Fazil)

Bagi Fadhil, ketajaman lidah bukan sekadar bakat bawaan, melainkan hasil dari proses belajar yang panjang. Ia percaya, kemampuan seorang cup tester dibangun dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga kesehatan indera pengecap, memperkaya referensi rasa, hingga membangun disiplin diri.

Untuk menjaga sensitivitas, Fadhil membiasakan diri mengonsumsi beragam buah untuk mengenali karakter rasa, menghindari rokok, serta rutin mencicipi kopi dari berbagai origin.

"Triknya, sering makan buah yang berbeda-beda, tidak merokok, dan sering mencicipi kopi dari berbagai daerah. Saat lomba juga harus fokus, jangan menoleh ke kiri atau kanan," kata pria lulusan S1 Sosiologi Universitas Syiah Kuala tersebut.

Fadhil, yang telah berkarier sebagai barista selama lebih dari lima tahun, menekankan bahwa fondasi seorang profesional bukan dimulai dari kemampuan membuat latte art yang memukau, melainkan disiplin kerja. Ia selalu membiasakan diri menjaga kebersihan area kerja, menghargai waktu, serta aktif berdiskusi dengan barista yang lebih berpengalaman.

"Yang paling penting itu latihan skill komunikasi. Barista bukan cuma bikin kopi, tapi juga harus bisa berinteraksi dengan orang," ujar pria yang bekerja sebagai Kepala Operasional Harvies Coffee Banda Aceh itu.

Baginya, kemampuan teknis memang syarat utama, namun komunikasi dan sikap profesional adalah pembeda di mata pelanggan. Ia pun berpesan kepada barista pemula agar tidak terburu-buru mengejar estetika visual sebelum membangun dasar profesi yang kuat.

Kemenangan di ASCC 2026 bukanlah garis akhir. Fadhil kini membidik kompetisi tingkat nasional sekaligus mematangkan mimpinya untuk memiliki usaha roastery sendiri.

Di akhir wawancara, ia menitipkan pesan bagi kawula muda Aceh yang ingin menekuni profesi ini. "Jangan tanggung dan jangan hanya melihat kerennya saja. Harus tulus dan punya semangat belajar yang tinggi. Profesi barista adalah gerbang termudah untuk bertemu banyak orang. Manfaatkan itu untuk membangun relasi," pungkasnya.

Keberhasilan Fadhil membuktikan bahwa di balik keahlian yang mumpuni, terdapat disiplin, kemauan belajar, dan kerendahan hati dalam membangun hubungan dengan sesama. Bekal inilah yang mengantarkannya menjadi juara sekaligus membuka jalan untuk membawa nama barista Aceh ke kancah yang lebih luas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....