Dari Ajang Kompetisi Barista Aceh menuju Standarisasi Barista Internasional
- 28 Jun 2026 01:42 WIB
- Banda Aceh
Poin Utama
- ASCC 2026 menjadi langkah awal membangun standarisasi kompetensi barista, roaster, dan petani kopi di Aceh.
- Banyak barista Aceh masih belajar secara otodidak sehingga membutuhkan wadah pembinaan dan peningkatan kompetensi.
- Kompetisi ini diharapkan melahirkan barista Aceh berstandar nasional dan internasional yang mampu bersaing hingga pasar kerja luar negeri.
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Di balik denting portafilter, aroma kopi yang baru disaji, dan ketegangan para peserta di Aceh Specialty Coffee Competition (ASCC) 2026, tersimpan tujuan yang lebih besar daripada sekadar mencari juara. Kompetisi ini menjadi langkah awal membangun standar kompetensi barista Aceh agar mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
Ketua Panitia ASCC 2026, Dr. M. Reza Hani, mengatakan selama ini barista di Aceh tumbuh dengan kemampuan yang beragam. Banyak di antaranya belajar secara otodidak tanpa acuan standar kompetensi yang sama.
"Barista-barista yang ada di Aceh itu tidak ada standarisasi. Mereka belajar secara otodidak. Nah, ke depannya kami ingin membuat standarisasi untuk barista, roaster, dan petani," kata Reza kepada RRI usai menjuri peserta ASCC 2026 di Kafa Roastery, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Reza, kondisi tersebut bukan berarti Aceh kekurangan talenta. Sebaliknya, provinsi penghasil kopi ini memiliki potensi besar melahirkan barista berkualitas apabila memperoleh pembinaan yang terarah.
Hal itu terlihat dari antusiasme peserta ASCC 2026 yang datang tidak hanya dari Banda Aceh, tetapi juga dari Bireuen, Blang Pidie, dan sejumlah kabupaten lainnya. Sebanyak 36 peserta mengikuti tiga kategori lomba, yakni Espresso Bar, Manual Brew, dan Cup Taster.

Menurut Reza, kompetisi menjadi pintu masuk untuk menemukan bakat-bakat terbaik yang selama ini belum memiliki wadah pengembangan.
"Tujuan Aceh Specialty Coffee Competition 2026 itu untuk melihat potensi dan bakat para barista yang ada di Aceh. Jadi bukan cuma di Banda Aceh, tapi seluruh Aceh," ujarnya.
Lebih jauh, ia melihat peluang kerja barista Indonesia di luar negeri terus terbuka. Sebagai eksportir kopi yang menjalin kerja sama dengan berbagai pelaku industri kopi di sejumlah negara, Reza mengaku kerap menerima permintaan tenaga barista dari Indonesia.
"Mereka suka dengan barista Indonesia karena attitude-nya bagus, kinerjanya baik, dan ramah kepada pelanggan," katanya.
Meski demikian, menurutnya, jumlah barista asal Aceh yang bekerja di luar negeri masih belum sebanyak dari daerah lain, terutama Pulau Jawa. Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Selain kemampuan teknis menyeduh kopi, pembinaan yang direncanakan juga mencakup penguatan pengetahuan tentang kopi, etika pelayanan, hingga kemampuan berbahasa agar memenuhi standar industri nasional dan internasional.
"Kita ingin membantu standarisasi barista dari segi teknikal, knowledge, attitude, dan bahasa. Kita ingin mereka memiliki daya saing dan standar nasional maupun internasional," ucapnya.
ASCC 2026 juga menjadi penanda bangkitnya kembali kompetisi specialty coffee di Aceh setelah beberapa tahun vakum. Pada hari pertama, panitia menyeleksi 13 finalis dari 36 peserta untuk bertanding pada babak final. Pemenang pertama nantinya akan mendapatkan pembinaan sebagai persiapan mengikuti kompetisi tingkat nasional pada 2027.

Bagi Reza, tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan juara dalam sebuah perlombaan, melainkan melahirkan generasi barista Aceh yang mampu membawa nama daerah sekaligus memperkuat posisi Aceh dalam industri specialty coffee Indonesia. (*)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....