Barista Berkualitas Wujudkan Kopi Aceh Semakin Dikenal Dunia
- 27 Jun 2026 18:44 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh –Di tengah reputasi Kopi Gayo yang telah mendunia, peningkatan kompetensi barista dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas sajian sekaligus memperkuat daya saing industri kopi Aceh. Hal itu mengemuka dalam Dialog UMKM Talks Programa 1 RRI Banda Aceh, Senin (22/6/2026), yang menghadirkan Founder Sprout Coffee Roasters sekaligus Coffee Educator di LCL Coffee Lab, Laurent Gelbolingo, serta Founder Zip Coffee Roastery & Lab dan Production Manager Solong Coffee, Aryo Kuncorojati.
Laurent menilai budaya minum kopi di Aceh memiliki keunikan tersendiri. Dengan ribuan warung kopi yang tersebar di berbagai daerah, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, menurutnya, besarnya budaya minum kopi perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya para barista.
Ia menjelaskan bahwa secara teknis, banyak barista muda di Aceh telah memiliki kemampuan yang baik dan kreativitas tinggi. Meski demikian, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat, terutama penerapan standar penyeduhan, etika kerja, manajemen proses brewing, serta konsistensi dalam menghasilkan cita rasa kopi.
"Seorang barista tidak cukup hanya mampu mengoperasikan mesin espresso atau membuat latte art. Mereka juga harus memahami teori kopi, mulai dari asal biji kopi, proses pascapanen, teknik roasting, hingga bagaimana setiap variabel memengaruhi rasa di dalam cangkir," ujarnya.
Laurent mengatakan LCL Coffee Lab sejak 2019 fokus memberikan pelatihan dasar barista. Kini lembaga tersebut juga menyelenggarakan pelatihan bersertifikat Specialty Coffee Association (SCA), meliputi barista, roasting, sensory, hingga pemahaman proses pascapanen kopi.
Menurutnya, sertifikasi bukan sekadar memperoleh selembar dokumen, melainkan menjadi pengakuan atas kompetensi sekaligus sarana meningkatkan standar profesi barista di Aceh.
Sementara itu, Aryo Kuncorojati menjelaskan bahwa perkembangan industri kopi saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada cerita di balik secangkir kopi. Konsumen specialty coffee, katanya, semakin ingin mengetahui asal-usul kopi, proses pengolahan, hingga karakter rasa yang dihasilkan.
"Barista menjadi ujung tombak yang menyampaikan seluruh perjalanan kopi kepada konsumen. Mereka harus mampu menjelaskan dari mana kopi berasal, siapa petaninya, bagaimana prosesnya, hingga rasa yang akan dinikmati pelanggan," katanya.
Sebagai seorang Q Grader, Aryo mengaku rutin berinteraksi dengan komunitas barista, roastery, dan pelaku industri kopi di berbagai daerah. Ia melihat kemampuan teknis maupun pengetahuan dasar barista Aceh sudah cukup baik. Yang dibutuhkan saat ini adalah ruang untuk terus berkembang dan mengasah kemampuan melalui pelatihan maupun kompetisi.
Menurut Aryo, tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun karakter pelayanan atau hospitality. Sebab, barista merupakan bagian dari industri jasa yang berinteraksi langsung dengan pelanggan.
"Pelayanan yang baik, komunikasi yang ramah, penampilan profesional, dan kemampuan menjelaskan kopi menjadi bagian penting dari kompetensi seorang barista," ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa proses menyeduh kopi memiliki banyak variabel, seperti tingkat gilingan, suhu air, rasio kopi dan air, hingga karakter biji kopi. Karena itu, proses kalibrasi atau dial in harus dilakukan secara rutin agar kualitas seduhan tetap konsisten.
Dalam dialog tersebut, kedua narasumber sepakat bahwa salah satu langkah konkret meningkatkan kompetensi barista adalah menghadirkan ruang kompetisi yang sehat. Untuk itu, mereka menginisiasi penyelenggaraan Aceh Specialty Coffee Competition (ASCC) yang berlangsung pada 27–28 Juni 2026.
Kompetisi tersebut terbuka bagi barista maupun home brewer di Aceh sebagai wadah menunjukkan kemampuan sekaligus melakukan evaluasi bersama terhadap kualitas penyeduhan kopi.
Aryo berharap kompetisi tersebut menjadi agenda tahunan yang mampu mendorong lahirnya barista Aceh berprestasi hingga tingkat nasional.
"Kami ingin kompetisi ini menjadi pemicu agar teman-teman terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan suatu saat mampu mewakili Aceh di ajang nasional bahkan internasional," katanya.
Laurent menambahkan bahwa Aceh telah memiliki salah satu kopi terbaik di dunia. Karena itu, kualitas penyajian juga harus mampu mengimbangi kualitas bahan bakunya.
Ia optimistis barista Aceh memiliki potensi besar untuk berkembang apabila terus belajar, terbuka berbagi pengetahuan, serta aktif mengikuti pelatihan maupun kompetisi.
"Kami sudah memiliki kopi terbaik. Sekarang saatnya melahirkan barista terbaik yang mampu membawa nama Aceh ke tingkat dunia," tuturnya.
Melalui peningkatan kompetensi, kedua narasumber meyakini ekosistem kopi Aceh akan semakin kuat. Tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan di warung kopi dan coffee shop, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi petani, pelaku usaha, hingga memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....