Komunitas AVH Gaungkan Pelestarian Arsitektur Vernakular Aceh

  • 24 Des 2025 22:51 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh: Komunitas Architecture Vernacular Heritage (AVH) hadir sebagai ruang bagi anak muda Aceh yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan nilai-nilai arsitektur lokal. Komunitas ini dibentuk pada April 2024 dan telah aktif mendokumentasikan serta mengkaji berbagai objek cagar budaya, mulai dari bangunan peninggalan Belanda hingga rumah tradisional Aceh.

Ketua Komunitas AVH sekaligus Founder DZ Studio, Yusrivai Khatami, dalam Podcast Kuphie Sareng yang disiarkan di Kanal YouTube RRI Banda Aceh, Rabu (18/12/2025) mengatakan bahwa lahirnya AVH berawal dari hobi dan kegemaran para anggotanya terhadap sejarah. Anggota komunitas ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari dinas pariwisata, akademisi, hingga mahasiswa dan lulusan bidang arsitektur serta pariwisata. “Kawan-kawan yang bergabung memang punya minat yang sama terhadap sejarah dan bangunan-bangunan lama,” ujar Yusrivai.

Menurut Yusrivai, pengalamannya merantau ke Medan dan bertemu dengan arsitek mendiang Frankie Simanjuntak menjadi salah satu titik balik munculnya semangat untuk membangun AVH di Aceh. Ia melihat bagaimana rumah adat dan bangunan tradisional mampu menjadi energi bagi masyarakat untuk berkontribusi terhadap pelestarian daerahnya. “Ketika kita memahami cerita di balik rumah-rumah tradisional dan bangunan cagar budaya, akan muncul rasa memiliki terhadap sejarah itu,” katanya.

Ia menilai Aceh memiliki peradaban yang besar, namun sering kali belum disertai bukti yang dipahami secara konkret oleh generasi muda. Salah satu bukti tersebut, lanjut Yusrivai, dapat dilihat langsung dari bangunan tradisional dan cagar budaya yang masih berdiri hingga kini. “Orang sering bilang Aceh hebat, peradabannya luar biasa. Tapi buktinya apa? Salah satunya ya bangunan-bangunan ini,” jelasnya.

Meski berfokus pada arsitektur, Yusrivai menegaskan bahwa AVH tidak hanya menitikberatkan pada fisik bangunan semata. Esensi utama yang ingin disuarakan adalah nilai-nilai budaya dan makna yang terkandung di dalamnya. “Bukan bangunannya saja, tapi nilai budaya Aceh dan nilai lokal yang melekat pada bangunan itu yang kami angkat,” ujarnya.

Sebagai bentuk sosialisasi, AVH aktif membuat konten dan menggelar kegiatan yang kemudian dipublikasikan melalui media dan lingkungan kampus. Ia berharap, nilai-nilai lokal tersebut dapat menjadi sumber inspirasi dalam dunia desain dan arsitektur masa kini. “Kita ingin desain itu tidak lagi hanya meniru luar, tapi lahir dari nilai-nilai lokal kita sendiri,” tutup Yusrivai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....