Aceh Story Lab Ajak Anak Muda Berani Bercerita

  • 30 Okt 2025 09:30 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh: Di tengah maraknya konten hiburan digital yang serba cepat, komunitas Aceh Story Lab hadir dengan konsep yang berbeda. Komunitas ini menjadi wadah bagi anak muda Aceh untuk berbagi kisah hidup mereka melalui seni bercerita atau storytelling di atas panggung.

Raihan Azzahra, salah satu member Aceh Story Lab, menjelaskan bahwa komunitas ini berfokus pada pengalaman pribadi para peserta yang dikemas dalam bentuk penampilan langsung (live performance). “Kami ingin mengajak masyarakat, khususnya anak muda Aceh, untuk berani berbagi pengalaman hidup mereka. Jadi, mereka bisa tampil dan menyampaikan kisah pribadi mereka di atas panggung,” ujar Raihan dalam dialog interaktif Cek Cerita Kamu di RRI Pro 2 Banda Aceh, Selasa (14/10/2025).

Salah satu program utama dari komunitas ini adalah Story Slam, yaitu ajang di mana peserta menceritakan pengalaman hidup mereka secara langsung di hadapan penonton. Menurut Raihan, konsep ini menggabungkan unsur stand up comedy dan storytelling, tetapi dengan fokus yang lebih mendalam pada makna cerita. “Kalau stand up comedy kan tujuannya membuat orang tertawa. Nah, kalau di Story Slam, ceritanya bisa lucu, bisa sedih, atau bahkan menyentuh. Intinya, ini tentang pengalaman pribadi yang autentik,” jelasnya.

Menariknya, sebelum tampil di atas panggung, para peserta juga mengikuti kelas persiapan. Di sesi ini, mereka belajar menulis narasi dan menyusun alur cerita agar pesan yang disampaikan lebih kuat dan berkesan. “Jadi, sebelum tampil itu bukan langsung naik panggung. Kami ada proses menulis dan latihan bercerita dulu. Ada kelasnya supaya semua peserta siap secara mental dan teknis,” tambah Raihan.

Aceh Story Lab kini tengah menjalankan program semester kedua, setelah sebelumnya sukses mengadakan pilot cycle atau program perdananya. “Sekarang kami lagi jalan di cycle kedua, yaitu USK Story Slam Story Lab. Jadi ini semacam lanjutan dari program pertama yang sudah berhasil kami adakan sebelumnya,” tutur Raihan.

Meski kegiatan Story Slam ini menggunakan bahasa Inggris, Raihan menegaskan bahwa Aceh Story Lab bukanlah kelas belajar bahasa. “Syarat utamanya, ini bukan kelas belajar bahasa Inggris. Jadi pesertanya diharapkan sudah bisa berkomunikasi dasar dalam bahasa Inggris, walau belum terlalu lancar,” katanya.

Namun, untuk membuka ruang yang lebih luas, Aceh Story Lab juga berencana membuat versi berbahasa Indonesia agar lebih banyak anak muda Aceh bisa ikut berpartisipasi. “Kami sadar tidak semua orang nyaman berbicara dalam bahasa Inggris. Karena itu, ke depan kami ingin menghadirkan versi bahasa Indonesia, supaya lebih inklusif dan bisa menjangkau lebih banyak peserta,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Aceh Story Lab berharap dapat menumbuhkan keberanian, empati, dan kemampuan komunikasi di kalangan generasi muda Aceh. “Setiap orang punya cerita yang layak untuk dibagikan. Kami ingin jadi ruang bagi mereka untuk menyampaikan kisah itu dengan percaya diri,” tutup Raihan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....