Fusion Fiesta dan Upaya Menghidupkan Kembali Jazz Aceh
- 10 Jul 2026 19:44 WIB
- Banda Aceh
Denting piano, petikan gitar, dan ruang-ruang improvisasi memenuhi Indoor Taman Seni Budaya Aceh, Banda Aceh, Selasa malam 7 Juli 2026. Di hadapan para penonton, Fusion Fiesta menghadirkan sajian jazz fusion yang berbeda dari pertunjukan musik pada umumnya di Aceh.
Malam itu bukan sekadar konser. Namun, Fusion Fiesta menjadi penanda bahwa jazz di Aceh masih memiliki denyut kehidupan. Musik yang pernah tumbuh dan melahirkan sejumlah nama besar itu kini berupaya menemukan kembali ruangnya di Aceh.

Menghidupkan Jazz Bersama Musik Tradisi
Musisi jazz Yudi Amirul, musisi yang menggelar Fusion Fiesta tersebut kepada RRI (9/7/2026) bercerita bahwa konser dan workshop yang digelar dalam satu rangkaian acara itu, bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan ikhtiar membuka kembali ruang berekspresi bagi musisi Aceh.
“Jazz fusion menawarkan ruang untuk bereksperimen, berimprovisasi, dan melahirkan kreativitas. Melalui konser ini, saya memberi suguhan musik lain, alternatif karya musik, sehingga bisa menikmati beragam musik,” kata gitaris asal Aceh Singkil yang pernah dinobatkan sebagai Juara I The Best Guitar Jazz Icon Search Festival (2006).
Alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang kini menetap di Aceh Besar itu, percaya bahwa musisi muda di Aceh sebenarnya banyak yang berbakat dan menyukai musik ini. “Persoalannya, publikasi dan ruang pertunjukan masih sangat terbatas sehingga regenerasi berjalan lambat.” Apabila semakin banyak ruang yang tersedia, semakin besar pula peluang lahirnya generasi baru musisi jazz di Aceh, tegasnya lagi.
Ia berharap momentum seperti Fusion Fiesta perlu terus dihadirkan agar jazz kembali mendapat ruang dalam ekosistem musik di Aceh. “Saat musik tradisi dan kebebasan jazz bersatu, keduanya tentu akan menjadi kombinasi yang indah dan kaya warna,” ungkap pria yang bergabung Aceh Jazz Comunity dan Khanduri Jazz itu. Ia juga mendorong anak muda agar berani tampil dengan musik jazz sehingga akan lahir banyak pendengar, penikmat bahkan musisi jazz baru. Musik jazz menjadi kembali populer dan memperkaya musik di Aceh.
Pernyataan itu tidak lahir tanpa alasan. Sejarah jazz di Aceh ternyata jauh lebih panjang daripada yang dibayangkan banyak orang. Aceh memiliki sejarah panjang dalam perkembangan jazz fusion. Sebut saja Leuser Band di Banda Aceh dan Rajab Generation di Bireuen dan bahkan pernah menorehkan prestasi di tingkat nasional.
Jejak Jazz yang Terus Berbunyi di Aceh
Jejak itulah yang masih diingat oleh para pelaku musik yang menghidupkannya sejak puluhan tahun silam. Salah satunya adalah Mulyadi, musisi senior Aceh. Melalui ingatannya, kita kita bisa menelusuri perjalanan jazz di Aceh.
Mulyadi, pianis kelahiran 1961 di Banda Aceh ini memulai perjalanan bermusiknya sejak 1978. Leuser Band yang disebut Yudi Amirul, adalah salah satu pelopor jazz fusion Aceh. Dari posisinya sebagai pelaku sekaligus saksi sejarah itulah, Mulyadi membawa ingatan pada masa ketika malam-malam jazz digelar di Hotel Sultan, Restoran Braden di Gedung PIM, Hotel Meutia, hingga Tavern Cottage di Lhokseumawe.

“Jika dibandingkan 10 sampai 20 tahun lalu, ekosistem musik jazz di Aceh sebenarnya sudah berkembang melalui berbagai pentas jazz,” kata Mulyadi kepada RRI, Kamis 9 Juli 2026.

Ingatannya kemudian melangkah lebih jauh. Pada era 1960-an hingga 1980-an, Aceh bahkan telah memiliki kelompok big band yang diperkuat musisi-musisi seperti Bram Titaley, Muis Radjab, Akhiruddin, Max Sapulette, Idris ZZ, Abdul Hadjad, Sarbaini, dan Arifin. Nama-nama itulah yang, menurutnya, menjadi fondasi awal perkembangan jazz di Banda Aceh.
Mulyadi menilai tantangan perkembangan jazz saat ini telah berubah. Menurutnya, kemajuan teknologi sebenarnya membuat referensi musik jauh lebih mudah diakses dibandingkan masa ketika ia mulai bermusik.
“Di era globalisasi sekarang, semua informasi mudah didapat. Tidak ada lagi tantangan bagi pemusik yang memang suka dengan jazz,” ujarnya.
Persoalan sesungguhnya bukan lagi akses terhadap pengetahuan, melainkan kesungguhan untuk mendalaminya. “Hampir semua adik-adik musisi di Aceh enggan atau segan belajar kepada yang lebih senior,” ungkapnya.
Pernyataan itu menjadi menunjukkan bahwa regenerasi tidak hanya membutuhkan panggung pertunjukan, tetapi juga ruang belajar yang mempertemukan pengalaman para senior dengan semangat generasi muda. Ruang seperti itulah yang berusaha dihadirkan melalui Fusion Fiesta.
Menyambung Nada Antargenerasi
Apa yang dinilai sebagai persoalan oleh pianis Mulyadi, menemukan muaranya pada salah satu generasi muda Aceh. Salah satunya Dara Dali, penyanyi yang pernah menjuarai Bintang Radio RRI Banda Aceh dan pelatih vokal ini, ikut hadir mengikuti rangkaian Fusion Fiesta.

Kepada RRI (Kamis 9 Juli 2026), Dara mengaku sengaja meluangkan waktu datang karena melihat kegiatan seperti ini sangat jarang diselenggarakan di Banda Aceh. Baginya, Fusion Fiesta bukan hanya menyuguhkan pertunjukan musik, tetapi juga membuka ruang belajar yang memperkaya wawasan para musisi.

“Saya tertarik mempelajari dan menikmati musik jazz karena kebebasan berekspresi yang dimilikinya. Jazz mengajarkan kreativitas, improvisasi, kepekaan musikal, serta kemampuan berkomunikasi melalui musik,” kata Dara.
Melalui workshop yang diikuti sebelum konser, Dara memperoleh pemahaman baru tentang jazz fusion, termasuk sejarah perkembangan jazz di Aceh yang dipaparkan para narasumber. Penjelasan Mulyadi menjadi salah satu bagian yang paling membekas baginya.
“Saya baru mengetahui bahwa jazz sebenarnya sudah lama hadir di Aceh,” ujarnya.
“Penjelasan para narasumber membuka wawasan saya tentang sejarah, karakter, hingga perkembangan musik jazz di daerah ini.”
Bagi Dara, kegiatan seperti Fusion Fiesta memiliki arti penting, bukan hanya bagi para musisi jazz, tetapi juga bagi perkembangan seni musik di Aceh secara umum. Menurutnya, konser dan workshop semacam ini dapat mempopulerkan kembali jazz kepada masyarakat sekaligus mendorong lahirnya talenta-talenta baru.
“Kegiatan seperti ini membuka kembali ingatan bahwa jazz pernah berkembang di Aceh. Jazz adalah musik yang kaya, menyenangkan, dan layak terus dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem seni dan budaya Aceh,” katanya.
Pandangan Dara seolah melengkapi apa yang disampaikan Yudi Amirul dan Mulyadi. Jika Yudi menginginkan lebih banyak ruang berekspresi, sementara Mulyadi mengingatkan pentingnya menjaga mata rantai pengetahuan antargenerasi, maka Fusion Fiesta memperlihatkan bahwa keduanya dapat dipertemukan dalam satu panggung—tempat para senior berbagi pengalaman dan generasi muda menemukan inspirasi.
Ketika lampu panggung mulai redup pada Selasa malam itu, musik memang telah usai dimainkan. Namun, pesan yang berkelindan dibawa Fusion Fiesta belum berhenti bergema. Di balik setiap improvisasi yang terdengar, tersimpan harapan agar jazz tidak sekadar dikenang sebagai bagian dari sejarah Aceh, melainkan terus hidup melalui karya, pembelajaran, dan keberanian generasi baru untuk melanjutkannya. (*)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....