"Rusak Ancur", Suara Slank untuk Isu Lingkungan

  • 25 Jun 2026 10:32 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Grup band Slank menyuarakan kritik terhadap kerusakan lingkungan melalui lagu terbaru berjudul "Rusak Ancur". Lagu tersebut menjadi single andalan dalam album studio ke-26 mereka, "Republik Fufufafa", yang dirilis pada 5 Juni 2026.

Berdasarkan pengumuman resmi melalui akun Instagram @slankdotcom dan Facebook resmi Slank, lagu "Rusak Ancur" ditulis oleh Bimbim Slank. Karya tersebut mengangkat berbagai persoalan lingkungan yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

Melalui liriknya, Slank menyoroti sejumlah isu seperti kerusakan alam, deforestasi, ekspor pasir, hingga dampak lingkungan dari berbagai proyek pembangunan. Kritik tersebut disampaikan melalui gaya khas Slank yang lugas dan mudah dipahami pendengar.

Video musik "Rusak Ancur" dirilis sehari setelah peluncuran album, tepatnya pada 6 Juni 2026 melalui kanal YouTube resmi Musik Slank. Video tersebut menjadi salah satu karya yang berbeda dalam perjalanan karier Slank.

Untuk pertama kalinya, Slank memadukan rekaman video langsung dengan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Penggunaan teknologi tersebut dimanfaatkan untuk menggambarkan kondisi lingkungan yang digambarkan semakin rusak dan mengarah pada suasana distopia.

Pesan pelestarian lingkungan juga terlihat saat promosi album dilakukan. Dalam video yang diunggah di media sosial, para personel Slank datang ke Markas Potlot menggunakan odong-odong berwarna kuning sambil mengenakan topeng orangutan.

Aksi tersebut menjadi simbol dukungan terhadap perlindungan satwa liar dan kelestarian hutan. Gaya promosi unik itu juga mendapat perhatian penggemar di berbagai platform media sosial.

Album "Republik Fufufafa" sendiri berisi 10 lagu dengan tema yang beragam. Selain kritik sosial dan lingkungan, Slank juga menghadirkan lagu bertema cinta, kerinduan, hingga penghormatan kepada keluarga.

Beberapa lagu dalam album tersebut antara lain "Republik Fufufafa", "Jangan Rakus", "Di Dekatmu", "My Rinduku", "Papa Sid", "PPN 12%", "Bunga Rindu", "Buka Baju", dan "Ku Tak Mungkin".

Lagu "Papa Sid" menjadi salah satu karya yang cukup personal karena diciptakan Bimbim sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang ayahnya. Sementara "Di Dekatmu" menghadirkan nuansa balada romantis yang berbeda dari lagu-lagu kritik sosial dalam album tersebut.

Selain tersedia dalam format digital, Slank juga memastikan album "Republik Fufufafa" akan dirilis dalam bentuk piringan hitam atau vinyl. Melalui berbagai unggahan resmi mereka, Slank menyebut jumlah produksi vinyl akan dibuat terbatas untuk menjaga eksklusivitas rilisan fisik tersebut.

Kehadiran "Rusak Ancur" menunjukkan Slank masih mempertahankan identitas mereka sebagai kelompok musik yang kerap mengangkat isu sosial melalui karya. Kali ini, perhatian mereka tertuju pada kondisi lingkungan yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih luas dari masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....