Musisi Aceh Hadapi Realita Industri Digital
- 31 Jan 2026 23:28 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar bagi industri musik Aceh, termasuk peluang sekaligus tantangan bagi para musisinya. Hal tersebut disampaikan musisi legendaris asal Aceh, Firza Agam, dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Rabu (21/1/2026), dalam talk show bertema Perkembangan Lagu Aceh di Era Digital: Risiko dan Tantangannya bagi Masa Depan Musik Aceh.
Firza Agam yang telah malang melintang di dunia musik sejak akhir 1990-an mengatakan, tantangan yang dihadapi musisi Aceh pada masa lalu sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Pada era kaset, menurutnya, lagu-lagu Aceh lebih banyak dikonsumsi oleh kalangan orang tua, sementara anak muda cenderung memilih musik populer dari luar daerah.
“Dulu lagu Aceh itu dibeli orang tua. Anak muda malah bilang lagu Aceh kaset banget,” kenangnya.
Perubahan mulai terasa ketika era VCD hadir. Saat itu, musik Aceh mengalami lonjakan popularitas dan pendapatan para penyanyi mulai meningkat. Namun, Firza menilai euforia tersebut juga membawa dampak negatif, yakni menurunnya kualitas karya karena banyak musisi mengejar produksi cepat.
“Banyak yang kejar tayang. Lagu dibuat instan, tidak dipikirkan matang. Akibatnya, hanya sedikit penyanyi yang lagunya bisa bertahan lama,” ujarnya.
Memasuki era digital dan platform media sosial, Firza menyebut tantangan kembali berubah. Proses produksi musik kini jauh lebih mudah dan murah, namun tidak diiringi dengan peningkatan pendapatan yang sepadan.
“Hari ini semua serba instan, rekaman mudah, rilis mudah. Tapi pendapatan dari platform digital seperti YouTube sangat kecil,” katanya.
Ia mencontohkan, meskipun jumlah penonton sebuah lagu di YouTube bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan, penghasilan yang diterima musisi tidak sebanding, terutama jika mayoritas penonton berasal dari wilayah terbatas seperti Aceh.
Firza juga menyoroti tren konten instan di media sosial seperti TikTok yang kerap menggeser nilai artistik sebuah karya. Menurutnya, musisi dituntut tetap konsisten menjaga kualitas di tengah derasnya arus konten hiburan yang cepat dan masif.
“Menciptakan lagu itu tidak bisa asal jadi. Perlu proses panjang dan pemikiran matang supaya karya itu bisa bertahan,” tegasnya.
Firza Agam berharap para musisi Aceh tetap menjadikan kualitas sebagai prioritas utama agar musik Aceh tidak kehilangan jati diri di tengah tantangan era digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....