Rahasia Virsa Agam Bertahan di Industri Musik
- 31 Jan 2026 17:41 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Seniman dan musisi Aceh, Virsa Agam, berbagi pengalaman dan strategi menciptakan lagu Aceh agar tetap abadi dan diterima masyarakat, dalam perbicangan bersama RRI Banda Aceh, Selasa (21/1/2026).
Menurut Virsa, kunci sebuah lagu bisa abadi adalah dibuat untuk dinikmati orang lain, bukan sekadar untuk kepuasan pribadi. “Kalau mau abadi sebuah karya, buatlah lagu itu untuk orang, untuk yang menyukai karya kita,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengalamannya dalam album pertama yang langsung melejit karena memahami karakter pasar dan selera pendengar. Virsa menekankan pentingnya memadukan berbagai karakter lagu, mulai dari kisah romantis hingga lagu yang kocak, sehingga mampu bersaing di pasaran. “Konsepnya namanya rahasia pasar. Strategi itu bukan hanya menulis lagu, tapi juga menyesuaikan lagu dengan selera yang sedang populer,” jelasnya.
Virsa menilai, di era digital seperti sekarang, kreativitas harus berpadu dengan teknologi. Ia menyebutkan algoritma YouTube dan TikTok berperan besar dalam menentukan lagu yang populer, tetapi keberhasilan tetap bergantung pada respons penonton. “Sepandai-pandai robot merekomendasikan, kalau penonton tidak suka, sama saja. Intinya tetap konsumen, bukan hanya sistem,” tegasnya.
Selain itu, Virsa juga menyoroti fenomena lagu berbasis AI yang kini mulai banyak bermunculan. Ia mengingatkan bahwa meski teknologi memberikan peluang, dampak terhadap lagu Aceh tradisional harus diperhatikan agar nilai budaya tetap terjaga. “Kondisi lagu Aceh ke depan, kita harus hati-hati menghadapi perkembangan AI. Akibat paling ekstrem bisa menggeser identitas musik lokal,” katanya.
Ia menambahkan, dalam proses kreatifnya, Virsa tak segan melibatkan orang terdekat, termasuk istri, untuk mengevaluasi syair, melodi, dan irama sebelum direkam. Proses ini bisa memakan waktu hingga dua minggu untuk satu lagu, dengan puluhan lembar draft syair. “Bahkan sebelum rekaman, saya minta beberapa orang mendengar, memastikan bahasa dan irama sudah pas,” ungkapnya.
Virsa menekankan bahwa pendekatan strategis, pemahaman tren, dan interaksi dengan pendengar menjadi kunci agar lagu Aceh tetap relevan dan diminati di era modern. Ia berharap para musisi muda Aceh bisa belajar dari pengalaman ini untuk menjaga eksistensi musik daerah di tengah arus globalisasi.
“Lagu itu untuk orang, untuk budaya, bukan sekadar ego pribadi. Dengan begitu, musik Aceh tetap hidup dan bisa abadi,” pungkas Virsa Agam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....