Tren Cover AI Ancam Masa Depan Lagu Aceh

  • 31 Jan 2026 17:05 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Seniman Aceh, Virsa Agam, menyoroti tantangan yang dihadapi lagu-lagu berbahasa Aceh di tengah maraknya teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam industri musik. Hal ini disampaikan dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Rabu (21/1/2026).

Menurut Virsa, penggunaan AI untuk menyanyikan atau membuat lagu berbahasa Aceh berpotensi memengaruhi royalti dan keberlangsungan bahasa daerah itu. “Banyak lagu Aceh sekarang dicover atau dinyanyikan lewat AI, ini tentu ada pengaruh pada hak cipta dan royalti,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga keaslian bahasa Aceh dalam karya musik. Virsa mencontohkan, bahasa Aceh sering “terpeleset” saat digunakan dalam lagu, sehingga perlunya ketelitian dalam pengolahan kata dan pengucapan. “Misalnya cara pengucapan ‘meu’ atau ‘rabana’, banyak yang terpeleset. Kita harus hati-hati agar bahasa Aceh tetap utuh,” jelasnya.

Lebih lanjut, Virsa mengungkapkan proses kreatif yang panjang dalam menciptakan lagu. Ia mengatakan, untuk sebuah syair delapan bait, ia bisa membuat 50 lembar coretan sebelum menemukan versi final yang tepat. “Perlu waktu hingga 15 hari agar syair dan bahasa pas, irama pas, baru bisa direkam,” katanya.

Ia juga menekankan kolaborasi dengan pihak lain dalam proses penciptaan lagu. “Saya biasanya minta masukan istri atau ahli koreksi bahasa, lalu perdengarkan irama sebelum rekaman. Semua itu untuk memastikan kualitas dan bahasa yang benar,” ujar Virsa.

Seniman yang memulai kariernya sejak 1996 ini menekankan nilai keabadian lagu. Ia mencontohkan lagu-lagu Said Effendi yang tetap dinikmati lintas generasi dan menjadi inspirasi bagi penyanyi nasional maupun festival musik. “Lagu abadi itu lahir dari perjuangan panjang dan berat,” katanya.

Ia mengingatkan, meski teknologi berkembang pesat, kreativitas manusia tetap tak tergantikan. Lagu yang dihasilkan AI mungkin praktis, tetapi jiwa dan keaslian bahasa Aceh harus tetap dijaga oleh para musisi asli.

Virsa berharap generasi muda Aceh tetap menghargai dan melestarikan bahasa serta budaya musik lokal. “Bahasa Aceh dan lagu-lagu kita harus terus hidup, jangan sampai tergantikan hanya karena teknologi,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....