Record Store Day: Menyentuh Sosial dan Politik
- 24 Apr 2025 13:04 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Gairah anak muda terhadap musik kembali mendapat tempat melalui pendekatan segar yang dinilai relevan dengan situasi sosial saat ini. Pendekatan tersebut tidak hanya menyasar aspek hiburan, tetapi juga menyentuh ranah edukasi dan kesadaran politik melalui media digital yang kini lekat dengan kehidupan generasi muda.
Dalam dialog interaktif bersama Pro 1 RRI Banda Aceh, Kamis (24/4/2025), Dana Maulana, inisiator Record Store Day 2025, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengadopsi strategi baru yang lebih membumi. Strategi itu bertujuan mengenalkan platform media kepada anak muda sebagai sarana penyebaran informasi musik yang lebih menarik dan kekinian.
“Strategi saat ini kita pakai ya lebih mengenalkan media platform kepada anak-anak muda, dan kita juga libatkan isu politik saat ini yang sedang asik, tentunya isu itu yang ada kaitannya dengan musik,” ujar Dana. Ia menekankan pentingnya keterkaitan antara musik dan isu sosial-politik untuk membuat musik lebih relevan dan bermakna.
Record Store Day tahun ini pun dirancang bukan hanya sebagai ajang berburu rilisan fisik musik, tapi juga sebagai ruang dialog antara musik dan realitas sosial. Isu politik yang tengah hangat dan memiliki keterkaitan dengan dunia musik menjadi bagian dari narasi yang disuguhkan kepada pengunjung, terutama generasi muda.
Namun di balik semangat besar tersebut, terdapat tantangan yang tak ringan. Salah satu tantangan besar yang dihadapi para penggiat musik adalah dalam hal pelestarian dan pengelolaan arsip musik, termasuk dokumentasi sejarah yang membutuhkan proses panjang dan biaya besar.
Rika Wirandi, pemerhati musik yang juga terlibat dalam upaya pelestarian budaya musik, menyampaikan bahwa kesulitan utama masih berada pada tahap pengumpulan data dan pembiayaan untuk perawatan koleksi musik yang ada. Menurutnya, hal ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi semua pihak yang peduli pada sejarah musik lokal maupun nasional.
“Tingkat kesulitan yang kita alami saat ini, masih di pengumpulan data, biaya perawatan, pelestarian, itu semua pasti butuh dana yang luar biasa, apalagi di bagian publikasi itu juga menjadi tantangan kita saat ini,” jelas Rika. Ia berharap lebih banyak pihak yang mau bergabung dalam upaya ini, baik secara moral maupun materiil.
Meski jalan yang dilalui penuh tantangan, para penggagas Record Store Day tetap menyimpan harapan besar. Harapan tersebut bukan hanya pada apresiasi terhadap musik, tetapi juga terhadap pemahaman akan musik sebagai bagian dari sejarah dan budaya yang hidup.
“Kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengedukasi masyarakat bahwa musik bukan hanya sekedar hiburan, musik juga sebuah seni dalam kehidupan, dan musik juga akan mengingatkan kita pada catatan sejarah.”
Melalui kegiatan ini, mereka berharap dapat menciptakan kesadaran bahwa musik punya kekuatan besar dalam membentuk narasi sejarah dan membangun karakter bangsa. Edukasi ini diharapkan terus berlanjut, tidak hanya pada satu perayaan saja, tetapi menjadi gerakan jangka panjang yang menyentuh banyak lapisan masyarakat.
Record Store Day 2025 pun diharapkan bisa menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi musik sebagai alat komunikasi sosial yang efektif, serta menjadikan generasi muda lebih peduli terhadap peran budaya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....