Mahasiswa KKN USK Edukasi Anti Bullying dan Pancasiaga di SD Bandar Baru
- 29 Jul 2026 10:02 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh –Puluhan siswa SD Negeri 1 Bandar Baru tampak berebut mengangkat tangan ketika Ari Maulana melempar sebuah pertanyaan sederhana di depan kelas, Senin (27/7/2026). Pertanyaan itu bukan tentang mata pelajaran sekolah, melainkan bagaimana bersikap ketika melihat seorang teman diejek atau diperlakukan tidak baik.
Suasana kelas yang semula tenang berubah menjadi lebih hidup. Tawa dan antusiasme siswa mengiringi permainan edukatif serta simulasi yang dibawakan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala (USK) Periode XXIX Reguler Kelompok 11.
Kegiatan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus perundungan yang melibatkan pelajar di Aceh. Dalam beberapa pekan terakhir, dugaan pengeroyokan siswa saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Aceh Timur hingga video perundungan terhadap murid sekolah dasar di Simeulue menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dimulai sejak usia dini.
Berangkat dari kondisi itu, mahasiswa KKN USK menggelar sosialisasi Anti Bullying dan Pancasiaga (Pancasila Siap Siaga Bencana) di SD Negeri 1 Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya. Program tersebut bertujuan membangun karakter anak sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Tujuh mahasiswa terlibat dalam kegiatan tersebut, yakni Ari Maulana dari Program Studi Ilmu Hukum, Aulia Angelie Putri dan Nayfa Fathia Namiko dari Pendidikan Dokter, Dina Syifa Rahma dari Ilmu Keperawatan, Farras Aditya Mahasin dari Pendidikan Geografi, Nadiaton dari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, serta Nobel Prodeo Insan dari Kehutanan.
Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi, simulasi, permainan edukatif, dan tanya jawab. Para siswa dikenalkan dengan bentuk-bentuk bullying, dampaknya terhadap korban maupun pelaku, hingga cara melaporkan tindakan perundungan kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.
Mahasiswa juga mengajak siswa memahami bahwa tindakan mengejek, mengucilkan teman, maupun kekerasan fisik bukanlah bagian dari candaan. Sebaliknya, sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan berani membantu teman menjadi nilai yang harus dibiasakan sejak sekolah dasar.
Selain membahas perundungan, mahasiswa memberikan materi Pancasiaga sebagai pengenalan nilai-nilai Pancasila dalam membangun budaya sadar bencana. Siswa diajak mengenali langkah-langkah dasar ketika terjadi gempa bumi, memahami jalur evakuasi, serta pentingnya saling membantu saat keadaan darurat.
Ari Maulana dan Nadiaton memandu jalannya sosialisasi hingga suasana kelas menjadi aktif. Hampir setiap pertanyaan yang diajukan disambut tangan-tangan kecil yang terangkat ingin memberikan jawaban.
Salah seorang siswa, Kahfi, mengaku memperoleh banyak pelajaran baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, ia kini memahami bahwa mengejek teman juga termasuk tindakan bullying.
"Saya jadi tahu kalau mengejek teman juga termasuk bullying. Bang Ari dan Kak Nadia mengajarkan kami untuk saling menghormati, berteman dengan baik, dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Saya juga sekarang tahu apa yang harus dilakukan kalau terjadi bencana," kata Kahfi.
Kepala SD Negeri 1 Bandar Baru, Muhibbuddin, S.Pd.SD., M.Pd., menilai edukasi tersebut sangat dibutuhkan di lingkungan sekolah. Menurutnya, pencegahan perundungan harus dilakukan sejak dini agar anak-anak tumbuh dalam lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
"Edukasi seperti ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak saat ini. Pencegahan bullying harus dimulai sejak sekolah dasar, termasuk memberikan pemahaman mengenai bahaya cyberbullying di media sosial. Materi Pancasiaga juga menjadi bekal penting agar siswa memiliki kesiapsiagaan menghadapi bencana. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut," katanya.
Ketua Kelompok KKN USK, Ari Maulana, mengatakan program tersebut menjadi salah satu prioritas kelompoknya setelah melihat masih tingginya kasus perundungan di lingkungan pendidikan. Menurutnya, sekolah menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan nilai empati dan saling menghargai.
"Bullying bukan sekadar candaan, tetapi dapat meninggalkan dampak psikologis yang panjang bagi korban. Melalui edukasi ini kami ingin menanamkan nilai empati, saling menghargai, keberanian untuk berkata tidak terhadap perundungan, serta membangun budaya sekolah yang ramah anak sejak dini," ujarnya.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN USK, Muhammad Sayuthi, S.P., M.P., mengapresiasi program yang dijalankan mahasiswa. Ia berharap edukasi tersebut mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi sekolah dan masyarakat.
"Program yang digagas Ari Maulana bersama tim sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Edukasi Anti Bullying dan Pancasiaga merupakan langkah nyata dalam membangun karakter sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan anak sejak usia sekolah dasar. Saya berharap kegiatan seperti ini mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi sekolah maupun masyarakat," tuturnya.
Program tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas, Tujuan 3 mengenai Kehidupan Sehat dan Sejahtera, serta Tujuan 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Bagi para siswa, pelajaran hari itu bukan hanya tentang mengenali perundungan, tetapi juga memahami bahwa menghargai sesama merupakan langkah awal membangun lingkungan sekolah yang aman dan saling peduli.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....