Dari Ruang Koas ke Hong Kong, Mahasiswa FK USK Raih Juara 1 Clinical Case Fair
- 12 Jul 2026 03:49 WIB
- Banda Aceh
Poin Utama
- Mahasiswa Profesi Dokter FK USK meraih Juara 1 Clinical Case Fair APRM 2026.
- APRM merupakan forum mahasiswa kedokteran se-Asia Pasifik yang diselenggarakan IFMSA.
- Kompetisi berlangsung pada 1–5 Juli 2026 di The University of Hong Kong.
- Laporan kasus yang dipresentasikan berjudul Closed Fracture of the Left Intertrochanter Femur Evans Type IV.
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Pada 1–5 Juli 2026, ratusan mahasiswa kedokteran dari berbagai negara berkumpul di The University of Hong Kong dalam Asia Pacific Regional Meeting (APRM), forum tahunan yang diselenggarakan International Federation of Medical Students' Associations (IFMSA). Di forum ilmiah itulah Zhafran Trashadi, mahasiswa Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK), meraih 1st Place Best Clinical Case Report Presentation pada ajang Clinical Case Fair.
Penghargaan tersebut diraih melalui presentasi laporan kasus berjudul Closed Fracture of the Left Intertrochanter Femur Evans Type IV, yang membahas penanganan patah tulang paha bagian atas di dekat sendi panggul dengan pendekatan evidence-based medicine, yakni pengambilan keputusan medis berdasarkan bukti ilmiah terbaik yang tersedia.
Prestasi itu menjadi salah satu capaian penting dalam perjalanan akademik Zhafran. Bukan semata karena berhasil menjadi yang terbaik di hadapan dewan juri internasional, tetapi karena laporan kasus yang dipresentasikannya lahir dari pengalaman yang ia peroleh selama menjalani kepaniteraan klinik sebagai dokter muda.
"APRM tahun ini terasa berbeda karena menghadirkan ajang Clinical Case Fair, yaitu ajang presentasi clinical case report dari mahasiswa kedokteran terpilih dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik. Kesempatan ini terasa sangat tepat bagi saya karena dapat mengaplikasikan pengalaman klinis yang saya peroleh selama pendidikan koas. Sekaligus belajar dari berbagai pendekatan kasus yang dipresentasikan oleh peserta dari negara lain," ujar Zhafran kepada RRI, Sabtu, 11 Juli 2026.
APRM sendiri bukan sekadar ajang kompetisi ilmiah. Dalam sambutan pembukaan kegiatan, Asia Pacific Regional Director IFMSA, Sharif Mohammed Sadat menegaskan bahwa APRM menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa kedokteran untuk saling belajar, berbagi inovasi, dan membangun kepemimpinan yang mampu memberi dampak positif bagi sistem kesehatan di kawasan Asia Pasifik. Di forum seperti itulah mahasiswa dari berbagai negara saling bertukar gagasan, pengalaman klinis, dan pendekatan ilmiah dalam menghadapi persoalan kesehatan.
Dari Banda Aceh, Manila, ke Hong Kong
Bagi Zhafran, anak satu-satunya dalam keluarga kelahiran dan besar di Banda Aceh ini, bercerita bahwa perjalanan sampai ke Hong Kong, sesungguhnya dimulai tiga tahun sebelumnya. Pada 2023, ketika masih duduk di semester lima tahap preklinik, Zhafran mengikuti Pre-Asia Pacific Regional Meeting di Manila, Filipina. Saat itu ia datang bukan sebagai peserta kompetisi, melainkan sebagai mahasiswa yang ingin memperluas wawasan dan mengenal jejaring mahasiswa kedokteran dari berbagai negara.
"Pengalaman ini semakin membuka wawasan saya bahwa kolaborasi dan pertukaran ilmu di tingkat internasional memiliki peran penting dalam membentuk calon dokter yang lebih kompeten dan berdaya saing global," katanya.
Kesan pengalaman itu terus tumbuh dan menguat seiring perjalanan belajarnya dari ruang pelayanan kesehatan tempat ia menjalani kepaniteraan klinik (koas). Ada kasus-kasus yang selesai begitu pasiennya sembuh. Ada pula yang terus berjalan, jauh melampaui ruang rawat tempat ia pertama kali ditemukan.
Kasus fraktur intertrokanter femur — patah tulang di bagian atas paha, dekat sendi pinggul — yang ditangani Zhafran Trashadi, S.Ked selama menjalani kepaniteraan klinik (koas) di Banda Aceh, adalah salah satu yang didalami ulang. Ia tidak berhenti di ruang perawatan. Ia dibawa, dipelajari ulang, disusun dengan pendekatan evidence-based medicine — pengambilan keputusan klinis yang bersandar pada bukti ilmiah terkini — lalu diterbangkan hingga Hong Kong.
Di The University of Hong Kong, di hadapan mahasiswa kedokteran Asia Pasifik, dalam ajang Clinical Case Fair pada Asia Pacific Regional Meeting (APRM) 2026, Zhafran presentasikan laporan yang berjudul "Closed Fracture of the Left Intertrochanter Femur Evans Type IV".
Dalam presentasinya, Zhafran mengangkat ketepatan diagnosis, pemilihan tatalaksana yang sesuai, dan pengambilan keputusan klinis yang mempertimbangkan pula sudut pandang kesehatan global. Bukan hanya soal tulang yang patah, tapi soal bagaimana seorang calon dokter berpikir di hadapan satu kasus — sistematis, didukung analisis ilmiah, disampaikan dengan komunikasi yang jernih.
Itulah yang, menurut dewan juri, layak menjadi yang terbaik. Hasilnya: 1st Place Best Clinical Case Report Presentation — penghargaan tertinggi di kategori itu.
Baginya kompetisi tersebut tidak hanya tentang mengejar penghargaan. "Saya ingin menguji kemampuan dalam menyusun dan mempresentasikan clinical case report, sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran Indonesia mampu bersaing dan berbagi pengetahuan di tingkat global," ungkapnya.
Zhafran yang pernah menjabat sebagai Local Exchange Officer for Incoming periode 2022–2023 dan Local Coordinator CIMSA periode 2023–2024, pernah juga mengikuti program pertukaran mahasiswa kedokteran ke Gothenburg, Swedia, pada 2025. Baginya, beragam pengalaman itu demi memperluas jejaring sekaligus memperkaya perspektifnya dan kolaborasi internasional dalam dunia kedokteran.
Prestasi yang Dibangun Bersama
Penghargaan yang diraihnya di Hong Kong bukanlah akhir dari sebuah perlombaan, melainkan bagian dari proses belajar yang masih panjang. Selama mempersiapkan laporan kasus hingga mempresentasikannya di hadapan dewan juri internasional, ia merasa tidak pernah berjalan sendirian.
"Penghargaan ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus belajar, berkarya, dan membawa nama baik Fakultas Kedokteran dan Universitas Syiah Kuala serta Indonesia di tingkat internasional," ujar Zhafran.
Ia menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua dan keluarga, para dosen pembimbing, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, CIMSA Indonesia, CIMSA FK USK, serta rekan-rekan yang mendampinginya sejak tahap persiapan hingga kompetisi berakhir. Baginya, penghargaan tersebut merupakan buah dari kepercayaan, bimbingan, dan dukungan banyak pihak.
Keberhasilan itu juga disambut bangga oleh keluarga besar CIMSA Fakultas Kedokteran USK. Bagi organisasi yang selama ini menjadi ruang pengembangan kepemimpinan dan jejaring internasional mahasiswa kedokteran tersebut, capaian Zhafran bukan sekadar kemenangan individu, melainkan cerminan budaya akademik yang terus dibangun.
Local Coordinator CIMSA FK USK 2026–2027, Ikhwan Syafawi, mengatakan prestasi Zhafran menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran Indonesia mampu berkontribusi dalam forum ilmiah internasional melalui penalaran klinis dan budaya ilmiah yang kuat.
"Prestasi ini menjadi kebanggaan bersama dan mencerminkan semangat CIMSA dalam mendorong pengembangan kapasitas akademik, penalaran klinis, serta budaya ilmiah berbasis evidence-based medicine. Semoga keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa kedokteran untuk terus berkarya, mengembangkan laporan kasus klinis yang berkualitas, serta berani berkontribusi dalam forum ilmiah internasional demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat," kata Ikhwan kepada RRI, Sabtu 11 Juli 2026.
Terus Bertumbuh, Berkembang, dan Berkontribusi
Perjalanan ke Hong Kong telah usai. Pengalaman mengikuti APRM 2026 telah berlalu. Namun, keinginan tumbuh dan terus berkembang, belajar, tidak berhenti. Pertukaran gagasan, diskusi ilmiah, dan kolaborasi dengan mahasiswa dari berbagai negara merupakan bagian penting dalam membangun kompetensi seorang dokter. Demi punya kemampuan profesional menjawab tantangan kesehatan yang terus berkembang.
Pandangan itulah yang terus ia bawa dalam perjalanannya. Setelah menyelesaikan pendidikan profesi dokter, Zhafran bertekad melanjutkan pendidikan sebagai dokter spesialis. Ia ingin menghubungkan praktik klinis dengan riset, presentasi ilmiah, dan kolaborasi kesehatan global agar pengalaman yang diperoleh dari ruang pelayanan kesehatan tidak berhenti pada penanganan pasien semata, tetapi juga berkontribusi terhadap pengembangan ilmu kedokteran dan peningkatan kualitas layanan kesehatan.
Perjalanan dari Banda Aceh menuju Hong Kong mungkin telah mengantarkannya meraih satu penghargaan internasional. Namun, bagi Zhafran, pencapaian itu bukanlah garis akhir. Justru dari pengalaman tersebut, ia melihat bahwa seorang calon dokter tidak hanya dituntut mampu menangani pasien dengan baik, tetapi juga terus belajar, menghasilkan pengetahuan, dan membagikannya kepada komunitas ilmiah yang lebih luas. (*)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....